TLDR
Proyek DL4MCS bertujuan meningkatkan peramalan cuaca ekstrem dengan memadukan deep learning dan model fisika. Prediksi yang lebih baik tentang sistem konvektif mesoscale dapat memberikan waktu lebih bagi utilitas dan komunitas untuk mempersiapkan cuaca ekstrem. Kerjasama antara PNNL dan University of Wyoming berfokus pada pemodelan regional untuk meningkatkan akurasi peramalan cuaca lokal. Pomodo.id - Gabungan antara teknologi kecerdasan buatan (AI) dan model cuaca fisik berpotensi membawa kemajuan dalam prakiraan badai petir, mengatasi tantangan yang dihadapi oleh para ahli meteorologi. Proyek terbaru yang didukung oleh Departemen Energi AS sedang mengeksplorasi cara untuk mengombinasikan pembelajaran mendalam dengan model cuaca tradisional guna memberikan peringatan lebih awal tentang sistem badai yang kuat. Proyek ini, yang dikenal sebagai DL4MCS, melibatkan kolaborasi antara Planette AI, Pacific Northwest National Laboratory (PNNL), dan University of Wyoming. Tujuan dari proyek ini adalah untuk memprediksi mesoscale convective systems (MCS), yang merupakan kelompok besar badai petir yang dapat membentang ratusan mil.MCS adalah kejadian atmosfer yang dapat menyebabkan angin kencang, hujan lebat, banjir, dan cuaca ekstrem lainnya, serta berkontribusi secara signifikan terhadap curah hujan di musim panas di Amerika Serikat. Namun, tantangan dalam prakiraan cuaca adalah bahwa kondisi atmosfer yang memicu sistem ini dapat berkembang selama periode yang lama, sementara badai itu sendiri dipicu oleh proses yang terjadi pada skala yang lebih kecil. Hal ini membuat sistem prakiraan yang ada sulit untuk memprediksi aktivitas MCS dengan akurasi lebih dari seminggu.Proyek DL4MCS bertujuan untuk menyelidiki apakah penerapan deep learning dapat menjembatani kesenjangan ini dengan bekerja bersamaan dengan model prakiraan berbasis fisika. Penelitian ini akan memfokuskan pada jendela prakiraan dari sekitar tujuh hari hingga enam minggu, yang dikenal sebagai prakiraan subseasonal. Pendekatan ini tidak bertujuan untuk menggantikan model cuaca yang telah ada, melainkan untuk memperbaiki akurasi dan keandalan prakiraan badai petir yang terjadi, khususnya untuk peristiwa cuaca yang memiliki dampak besar.
DL4MCS adalah inisiatif penelitian yang mencoba mengkombinasikan teknik pembelajaran mendalam dengan model cuaca fisik untuk meningkatkan prakiraan cuaca. Hal ini penting karena bisa mengubah cara kita mempersiapkan dan merespon terhadap badai petir yang dapat menyebabkan kerugian besar. Sering kali, sistem prakiraan cuaca tradisional hanya dapat memberikan peringatan seminggu sebelumnya. Dengan pendekatan baru ini, diharapkan kita dapat menerima peringatan lebih awal dan lebih akurat, meminimalisir kerusakan yang mungkin terjadi.
Namun, ada bukti bahwa interaksi antara model fisika dan algoritme pembelajaran mendalam tidak selalu sederhana. Meski kombinasi ini menawarkan potensi besar untuk meningkatkan prakiraan, tantangan teknis dan ketidakpastian dalam data atmosfer bisa menimbulkan kesulitan dalam pemodelan. Lebih jauh lagi, proses pembelajaran dalam AI juga memerlukan data dalam jumlah besar yang mungkin tidak selalu tersedia untuk semua jenis cuaca.Pengembangan ini memiliki implikasi yang signifikan untuk masa depan prakiraan cuaca. Jika proyek ini berhasil, sistem prakiraan cuaca dapat menjadi lebih responsif dan akurat, memberi masyarakat waktu lebih untuk bersiap menghadapi cuaca ekstrem. Dengan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, pendekatan ini mungkin menjadi sangat diperlukan untuk melindungi infrastruktur, masyarakat, dan lingkungan.Artikel ini disusun berdasarkan 1 sumber.