TLDR
Paten untuk mendeteksi wabah penyakit dari data pembayaran belum diterapkan meskipun ada kebutuhan mendesak. Penyelidikan wabah cyclosporiasis melibatkan proses yang lambat dalam menentukan sumber kontaminasi. Wawancara dengan pasien menjadi instrumen yang paling lemah dalam mengidentifikasi lokasi infeksi. Pomodo.id - Menghadapi wabah penyakit, khususnya di waktu seperti sekarang yang menunjukkan musim cyclosporiasis terburuk di Amerika Serikat, mengungkap tantangan dalam mendeteksi dan respons terhadap kondisi tersebut. Sistem pembayaran seperti yang didesain oleh tiga ilmuwan data dari Mastercard dapat membantu dalam membantu mendeteksi wabah lebih awal, tetapi saat ini sistem tersebut masih belum diimplementasikan. Hal ini menciptakan kesenjangan yang semakin jelas antara apa yang mungkin dilakukan dan apa yang sebenarnya terjadi ketika berhadapan dengan krisis kesehatan masyarakat.Pada tahun 2014, para peneliti mengusulkan cara untuk memantau catatan penggunaan kartu pembayaran secara real-time guna mendeteksi penyebaran penyakit seperti cyclosporiasis. Proposal ini menghasilkan paten yang diberikan pada tahun 2019, namun hingga saat ini, teknologi tersebut belum pernah diterapkan. Sementara itu, wabah cyclosporiasis, yang disebabkan oleh parasit Cyclospora cayetanensis, melanda masyarakat dengan memicu diare yang parah pada banyak individu. Dalam sebuah investigasi oleh departemen kesehatan Michigan, terungkap bahwa 190 orang yang terinfeksi telah mengonsumsi selada dari Taco Bell, dan 90 persen dari mereka mencatat bahwa mereka telah mengonsumsi selada iceberg yang terkontaminasi.
Cyclospora cayetanensis adalah parasit mikroskopis yang dapat menyebabkan penyakit gastrointestinal, yang dikenal karena kemampuannya menyebar melalui produk segar yang terkontaminasi. Parasit ini membutuhkan waktu satu hingga dua minggu di lingkungan untuk menjadi infektif setelah terpapar pada manusia. Salah kaprah yang umum adalah anggapan bahwa penyakit ini dapat menyebar dari orang ke orang; kenyataannya, infeksi ini terutama terkait dengan mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dan tidak berpindah antara individu.
Walaupun terdapat tindakan investigasi epidemiologi yang ketat, seperti wawancara terhadap individu yang terkena dampak untuk menemukan pola konsumsi makanan, ada masalah dengan kekuatan bukti yang berasal dari pengujian laboratorium. Dalam kasusu ini, hasil dari satu pengujian lab tidak memberikan konfirmasi kuat terhadap keberadaan parasit, yang menciptakan kebingungan di kalangan publik. Penarikan hasil uji tersebut menunjukkan ketidakpastian yang bisa memperumit usaha peneliti untuk mengidentifikasi dan mengatasi sumber wabah.Jika sistem pemantauan berbasis pembayaran yang diusulkan dapat diterapkan, hal ini bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk mengidentifikasi wabah lebih awal sebelum menyebar luas. Saat ini, lebih dari 5.000 kasus tambahan dari infeksi cyclosporiasis masih dalam tahap tinjauan, sementara sistem yang lebih proaktif seharusnya bisa membantu menghilangkan jeda dalam respons terhadap wabah kesehatan di masa mendatang.Kedepannya, penting untuk mendorong penerapan teknolog yang sudah ada untuk deteksi kesehatan masyarakat yang lebih baik, sehingga kemampuan untuk merespons ancaman wabah bisa dioptimalkan. Keputusan dan langkah berkepanjangan diperlukan agar implikasi dari pengembangan teknologi semacam ini bisa dilihat dan diterapkan dalam pengelolaan kesehatan di AS.artikel ini disintesis dari 2 sumber.