TLDR
Aevex Corporation menerima kontrak senilai $18,5 juta dari Angkatan Udara AS untuk pengiriman drone serangan otonom. Sistem drone Raker dan Disrupter dirancang untuk misi fleksibel dan mampu diproduksi dengan cepat menggunakan teknologi manufaktur aditif. Inisiatif Drone Dominance dari Departemen Perang AS bertujuan untuk memperkuat basis manufaktur drone dan mempercepat pengadaan sistem otonom. # Angkatan Udara AS Kontrak Drone Serang Otonom dari Aevex senilai 18,5 JutaDalam era modern ini, penggunaan teknologi drone di bidang militer semakin berkembang pesat, terutama dalam rangka meningkatkan efektivitas operasi tempur. Baru-baru ini, Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) telah menandatangani kontrak senilai $18,5 juta dengan Aevex Corporation untuk pengembangan drone serang otonom.Kontrak ini diumumkan pada 13 Mei 2023, yang menandakan komitmen Angkatan Udara AS untuk memperkuat kemampuan tempurnya melalui penggunaan drone yang canggih. Aevex Corporation, perusahaan yang berbasis di California, akan memproduksi dua jenis drone otonom: Raker dan Disrupter. Raker UAS dirancang untuk melakukan misi pengintaian dan serangan presisi, sementara Disrupter UAS memiliki fungsi untuk operasi pengintaian, serangan, dan perang elektronik.Drone Raker dirancang untuk dapat terbang selama 16 jam dengan jarak operasional lebih dari 1.000 kilometer dan mampu mengangkat muatan hingga 30,4 kilogram. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dan kemampuan dari teknologi drone yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan modern pada operasi militer. Sesuai dengan kemampuan ini, drone tersebut akan memanfaatkan proses manufaktur canggih yang dikenal sebagai **manufacturing additif**. Proses ini memungkinkan produksi komponen drone secara cepat dan efisien menggunakan teknik pencetakan 3D.Teknologi yang digunakan dalam pengembangan drone serang ini mengacu pada kemampuan otonom yang memungkinkan mereka beroperasi tanpa campur tangan manusia dalam menentukan jalur penerbangan atau misi serangan. Drone ini dapat diprogram untuk melakukan pemantauan secara mandiri dan mengambil keputusan secara otomatis berdasarkan data yang mereka terima. Ini sangat penting dalam situasi tempur di mana keputusan cepat dan akurat dapat membuat perbedaan besar.Implikasi dari penggunaan drone otonom dalam operasi militer adalah transformasi cara perang dilakukan. Drone memberikan keunggulan strategis dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan pesawat tempur tradisional dan memiliki risiko yang lebih minimal bagi pilot. Dengan biaya sekitar $120.000 per unit untuk quadcopter taktis, drone ini menawarkan solusi yang jauh lebih ekonomis untuk kebutuhan operasional. Dalam konteks angelan uang dalam anggaran Angkatan Udara yang diajukan, total permintaan anggaran mencapai $338,8 miliar, yang mencakup investasi signifikan dalam sistem drone.Pengembangan drone serang otonom tidak hanya akan memperkuat kekuatan militer AS, tetapi juga dapat berdampak pada dinamika global terkait pengembangan teknologi militer. Negara-negara lain mungkin terdorong untuk mempercepat inovasi dalam bidang drone, sehingga menyebabkan perlombaan senjata teknologi. Di samping itu, teknologi ini dapat meredefinisi batasan operasi militer dan tingkat efektivitas yang dapat dicapai dalam konflik masa depan.Dalam dunia yang semakin tergantung pada teknologi, investasi semacam ini menyoroti pentingnya inovasi bagi pertahanan nasional. Semakin besar adopsi teknologi baru seperti drone otonom, semakin kompleks pula tantangan yang dihadapi dalam hal regulasi dan pertimbangan etika penggunaannya dalam perang.Artikel ini disintesis dari 4 sumber.