Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Pria Diduga Peretas Pemerintah China Diekstradisi ke AS Terkait Serangan Siber

Teknologi
Keamanan Siber
News Publisher
28 Apr 2026
284 dibaca
1 menit
Pria Diduga Peretas Pemerintah China Diekstradisi ke AS Terkait Serangan Siber

AI summary

Xu Zewei diekstradisi ke AS untuk menghadapi tuduhan serangan siber.
Hafnium merupakan kelompok peretas yang terlibat dalam serangan besar-besaran terhadap organisasi di AS.
Pemerintah Cina menolak tuduhan dan menuduh AS memalsukan kasus terhadap warganya.
Xu Zewei diekstradisi ke Amerika Serikat setelah ditangkap di Italia atas dakwaan melakukan serangan siber untuk pemerintah Tiongkok. Ia bersama Zhang Yu diduga mencuri data riset terkait COVID-19 dan mengeksploitasi kerentanan Microsoft Exchange. Kasusnya mencuat sebagai bagian dari tindakan hukum terhadap kelompok peretas China.Xu dan kelompok Hafnium menargetkan ribuan organisasi di AS, termasuk universitas, kontraktor pertahanan, dan lembaga riset, dengan intensitas serangan besar-besaran sejak 2020. Hal ini menyebabkan pelanggaran data yang masif dan mengancam keamanan nasional. Shanghai Powerock Network menjadi perantara aktivitas ini, melapor langsung ke pejabat China.Ekstradisi Xu meningkatkan ketegangan diplomatik China-AS, dengan Beijing menolak dan menyebut kasus ini palsu. Pemerintah AS menggunakan kasus ini untuk memperkuat tindakan hukum terhadap serangan siber berbahaya. Kejadian ini menandai pentingnya pengawasan dan hukum internasional terhadap aktivitas dunia maya berbahaya.

Experts Analysis

Cybersecurity Expert Brian Honan
Langkah ini menunjukkan komitmen Amerika Serikat dalam menindak pelaku serangan siber lintas negara yang merugikan keamanan nasional dan institusi penting. Pengadilan ekstradisi dan kejahatan siber semacam ini membantu menetapkan preseden hukum dalam dunia maya yang selama ini sulit dikontrol.
Editorial Note
Ekstradisi Xu Zewei adalah langkah penting dalam menegakkan hukum internasional terhadap serangan siber yang didukung negara, namun ini bisa menjadi pemicu ketegangan geopolitik yang lebih tinggi. Kejadian ini menegaskan bahwa pertahanan siber harus menjadi prioritas utama bagi semua negara demi melindungi data kritis dari ancaman yang semakin canggih.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.