Superkonduktor Berbasis Nikel Baru Capai Suhu 63 K Tanpa Tekanan Tinggi
Sains
Fisika dan Kimia
17 Apr 2026
177 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Penelitian ini berhasil meningkatkan temperatur transisi superkonduktor berbasis nikel hingga 63 K di bawah tekanan ambien.
Teknik pengelolaan pertumbuhan material pada skala atom memungkinkan pembuatan film oksida nikel berkualitas tinggi.
Fase diagram yang ditemukan dalam penelitian menunjukkan hubungan antara struktur atom dan superkonduktivitas, mirip dengan pola yang terlihat pada superkonduktor berbasis tembaga.
Tim peneliti di China berhasil mengembangkan material superkonduktor berbasis nikel bilayer yang mencapai suhu transisi 63 K pada tekanan ambient. Selain itu, mereka menciptakan dua struktur buatan lain dengan suhu transisi 50 K dan 46 K sebagai bukti peningkatan performa.
Metode strong oxidation atomic-layer epitaxy digunakan untuk mengontrol pertumbuhan material dengan akurat pada tingkat atom, sehingga menghasilkan film nikel oksida berkualitas tinggi. Spektroskopi sudut-resolved fotoemisi mengungkap struktur pita elektronik yang khas dekat permukaan Fermi, memberikan bukti mekanisme superkonduktivitas.
Penelitian ini menghubungkan struktur atom, perilaku elektronik, dan superkonduktivitas, serta membangun diagram fasa yang menunjukkan keberadaan 'superconducting dome'. Hal ini menandai kemajuan penting untuk memahami dan mengembangkan superkonduktor nikel yang dapat diaplikasikan dalam teknologi energi dan komputasi kuantum masa depan.
Analisis Ahli
Xue Qikun
Penemuan ini menegaskan bahwa material nikel memang dapat menjadi kelas superkonduktor tinggi ketiga setelah tembaga dan besi, membuka paradigma baru dalam riset superkonduktivitas.Yuefeng Nie
Fase dome yang muncul dalam diagram fasa sangat penting karena menunjukkan adanya mekanisme superconducting konvensional dalam sistem ini, yang bisa mengarahkan penelitian ke arah yang lebih terfokus.P. J. Hirschfeld
Perkembangan ini sangat menarik, karena mengatasi keterbatasan tekanan tinggi yang selama ini menjadi hambatan utama pengembangan material superkonduktor baru.


