Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

China Geser Eropa Jadi Pusat Bioteknologi Dunia, Talenta Indonesia Dikejar Perusahaan China

Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
health-and-medicine (1d ago) health-and-medicine (1d ago)
16 Apr 2026
172 dibaca
1 menit
China Geser Eropa Jadi Pusat Bioteknologi Dunia, Talenta Indonesia Dikejar Perusahaan China

Rangkuman 15 Detik

China semakin menggeser posisi Eropa sebagai pusat riset bioteknologi.
Perusahaan China menawarkan peluang kerja dengan penghasilan yang lebih tinggi dan dukungan visa yang lebih baik.
Perbedaan pendekatan pendidikan antara China dan negara-negara Barat mempengaruhi kebutuhan akan talenta asing.
Eropa mulai kehilangan statusnya sebagai pusat riset dan pengembangan bioteknologi karena kebijakan perusahaan yang menghentikan pengembangan terapi sel, khususnya Novo Nordisk yang merumahkan ribuan karyawan. Peneliti asal Indonesia, Bramasta Nugraha, menjadi korban perubahan ini karena unit risetnya di Kopenhagen ditutup dan mereka harus meninggalkan Denmark tanpa status tinggal permanen. Di tengah kesulitan di Eropa, China menawarkan peluang kerja menarik dengan gaji yang jauh lebih tinggi serta insentif dari pemerintah pusat dan provinsi untuk talenta asing. Perusahaan China melakukan perekrutan agresif dan memberikan kemudahan visa '5 Star Visa' yang memberi fasilitas hampir setara kewarganegaraan, membuat para peneliti dapat bekerja secara mandiri tanpa terikat kontrak. Perkembangan bioteknologi di China sangat pesat dengan investasi besar dan infrastruktur teknologi tinggi yang sudah sejajar dengan negara maju lain. China fokus mengatasi kekurangan kreativitas dari sistem pendidikannya dengan mendatangkan peneliti asing berbakat. Hal ini mengindikasikan bahwa posisi China sebagai pemimpin inovasi farmasi dan bioteknologi dunia akan semakin kokoh di masa depan.

Analisis Ahli

Dr. Andi Wijaya (Profesor Bioteknologi)
China sudah menjadi pusat inovasi bioteknologi berkat investasi besar dan pendekatan strategis merekrut talenta global. Eropa perlu lebih fleksibel dalam kebijakan imigrasi dan dukungan penelitian agar tetap kompetitif.
Prof. Siti Rahma (Ekonom Riset dan Inovasi)
Penarikan talenta oleh China menunjukkan pentingnya kebijakan nasional yang mendukung inovasi. Dampak dari kebijakan proteksionis AS dan Eropa jadi pukulan berat bagi peneliti asing.