China Gantikan Eropa Jadi Pusat Bioteknologi Dunia, Talenta Global Beralih
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
16 Apr 2026
289 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Pergeseran pusat riset bioteknologi dari Eropa ke China semakin nyata.
Perusahaan China menawarkan peluang yang menarik bagi peneliti internasional dengan penghasilan yang tinggi.
Pendidikan di China memiliki karakteristik berbeda yang mempengaruhi kebutuhan akan talenta kreatif dari luar negeri.
Posisi Eropa sebagai pusat riset bioteknologi tergeser oleh China setelah kebijakan perusahaan besar Eropa seperti Novo Nordisk menghentikan riset terapi sel. Ribuan peneliti asing, termasuk Bramasta Nugraha, kehilangan pekerjaan dan status visa di Denmark akibat perubahan ini.
Perusahaan dan pemerintah China agresif merekrut talenta internasional dengan menawarkan penghasilan jauh lebih tinggi dan kemudahan administrasi visa seperti '5 Star Visa'. China kini menguasai sekitar sepertiga molekul baru di industri farmasi dunia, menunjukkan perkembangan pesat di bioteknologi.
Dampaknya, China semakin menarik tenaga ahli kreatif sekaligus memanfaatkan sistem pendidikan yang berbeda untuk mengembangkan inovasi obat yang lebih pesat. Eropa menghadapi risiko kehilangan posisi dominan dalam riset bioteknologi global jika tidak memperbaiki iklim kebijakan dan riset mereka.
Analisis Ahli
Prof. Dr. Endang Sulistyaningsih
China kini bukan hanya pasar besar tapi juga pusat inovasi bioteknologi global, karena investasi besar dan strategi pengembangan talenta yang sistematis. Eropa perlu memperbaiki kebijakan dan lingkungan riset agar tidak kehilangan bakat ilmiahnya.Dr. Agus Santoso
Pendekatan China yang menyediakan keamanan visa dan paket insentif membuat para talenta asing merasa lebih dihargai dan stabil, memicu lompatan kemajuan teknologi farmasi yang tidak terlihat di wilayah lain.


