Bitcoin Gagal Breakout Rp 1.27 miliar (US$76,000) Namun Sinyal Short Squeeze Menguat
Finansial
Mata Uang Kripto
15 Apr 2026
173 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Bitcoin mengalami kesulitan menembus level resistensi kunci di atas $76,000.
Posisi bearish yang berkelanjutan di pasar crypto bisa menjadi sinyal untuk potensi kenaikan mendatang.
Kondisi pasar tradisional menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan dengan pasar crypto saat ini.
Bitcoin memulai hari dengan potensi breakout di level Rp 1.27 miliar (US$76,000) namun harga akhirnya kembali turun ke sekitar Rp 1.24 miliar (US$74,300) sambil masih mencatatkan keuntungan 1,3% dalam 24 jam terakhir. Ether mengikuti tren serupa dengan kenaikan harian 2,5% meski juga menurun dari puncaknya di Rp 40.08 juta (US$2,400) . Indeks pasar saham seperti Nasdaq dan S&P 500 menunjukkan tren positif yang kontras dengan pergerakan harga kripto.
Menurut data dari K33 Research, funding rate pada kontrak perpetual Bitcoin di Binance tetap negatif selama 11 periode berturut-turut dan open interest menunjukkan peningkatan posisi short baru. Kondisi seperti ini secara historis sering menjadi tanda awal munculnya lonjakan harga akibat trader yang menutup posisi short secara paksa atau short squeeze.
Meski kondisi harga saat ini berada jauh dari rekor tertinggi Bitcoin di Rp 2.10 miliar (US$126,000) , persentase penurunan sebesar sekitar 40% dan pola pasar saat ini mirip dengan periode stres sebelumnya yang menjadikan momen tersebut sebagai peluang pembelian menarik untuk investor jangka panjang.
Analisis Ahli
Vetle Lunde
Funding rate negatif beruntun menunjukkan sentimen bearish yang kuat namun juga siap memicu short squeeze, berdasarkan pengalaman pasar di era FTX dan larangan penambangan China.