TLDR
Blokade maritim AS bertujuan untuk menekan perekonomian Iran dan mengontrol akses ke pelabuhan strategis. Operasi di Selat Hormuz melibatkan berbagai jenis kapal dan pesawat untuk meningkatkan pengawasan dan keamanan. Ranjau di Selat Hormuz menambah kompleksitas dalam operasi militer, memaksa angkatan laut untuk menetapkan koridor aman. Amerika Serikat mengumumkan blokade maritim penuh terhadap semua kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan di Iran mulai 13 April 2026. Blokade ini bertujuan mengendalikan pergerakan barang dan peralatan militer Iran dengan mengerahkan kapal perang dan pesawat patroli canggih di kawasan Teluk Arab. Pengoperasian blokade dipimpin oleh U.S. Central Command dan Armada Kelima.Kapal perusak kelas Arleigh Burke seperti USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy telah dikerahkan untuk mengamankan jalur laut strategis, khususnya di Selat Hormuz yang merupakan jalur transit minyak utama dunia. Blokade berlaku untuk kapal dari semua negara di perairan teritorial Iran namun tetap menjaga kebebasan navigasi untuk kapal yang menuju tujuan non-Iran. Risiko tinggi dari ranjau laut membuat operasi pembersihan dilakukan bertahap menggunakan teknologi UUV dan pesawat patroli P-8A Poseidon.Langkah ini akan memberikan tekanan ekonomi signifikan pada Iran melalui pembatasan akses pelabuhan utama seperti Bandar Abbas dan Chabahar serta memengaruhi logistik militer negara tersebut. Namun, ada risiko ketegangan militer meningkat di kawasan dan potensi gangguan pasokan minyak global jika terjadi insiden maritim. Amerika Serikat bersama sekutunya terus melakukan operasi pengamanan dan pembersihan ranjau untuk menjaga koridor laut tetap aman.