Inggris Gunakan Drone untuk Amankan Selat Hormuz dari Ancaman Ranjau Laut
Teknologi
Robotika
16 Mar 2026
101 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Inggris berencana menggunakan teknologi drone untuk meningkatkan keamanan di Selat Hormuz.
Ancaman terhadap pengiriman energi dapat berdampak besar pada pasar minyak dan ekonomi global.
Kerja sama internasional diperlukan untuk menangani situasi konflik yang kompleks di Timur Tengah.
Ketegangan di Selat Hormuz meningkat akibat ancaman Iran terhadap kapal yang melintas, mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan mendorong harga minyak naik dari 65 menjadi lebih dari 100 dolar per barel. Menghadapi situasi ini, Inggris mempertimbangkan teknologi drone penyapu ranjau sebagai solusi yang lebih aman dibanding mengirim kapal perang.
Drone tersebut dapat mendeteksi dan memicu ranjau dengan cara yang aman dengan meniru pergerakan dan sinyal akustik kapal besar. Inggris juga bekerja sama dengan sekutu internasional dan mengkaji penggunaan drone interceptor Octopus-100 yang dikembangkan bersama Ukraina untuk melindungi kapal dari serangan udara, sementara kapal perang Royal Navy sedang bergerak ke kawasan.
Pemanfaatan drone diharapkan dapat mempercepat pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, mengurangi risiko bagi awak kapal, dan menstabilkan pasar minyak global. Namun, ketegangan politik masih tinggi dan dampak ekonomi jangka panjang akan bergantung pada cepatnya penyelesaian konflik dan keamanan rute pelayaran.
Analisis Ahli
Dr. Ahmad Fauzi (Ahli Keamanan Maritim)
Penggunaan drone dalam operasi penyapuan ranjau bisa mengurangi risiko nyawa awak kapal dan mempercepat pemulihan jalur pelayaran, tapi implementasinya harus didukung oleh protokol keamanan yang matang agar efektif di medan tempur nyata.

