Bitcoin Sudah Harga Kebijakan Moneter Ketat, Saham Masih Rentan Guncangan
Finansial
Mata Uang Kripto
28 Mar 2026
58 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Bitcoin mungkin telah menyesuaikan diri dengan kondisi pasar yang lebih ketat sebelum aset tradisional.
Kenaikan harga energi dapat berdampak signifikan pada ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter.
Stablecoin semakin menjadi bagian penting dari infrastruktur keuangan dan menarik perhatian institusi.
Bitcoin telah turun di bawah harga Rp 1.17 juta ($70.000) dengan penurunan lebih dari 23,7% sejak awal tahun, mencerminkan reaksi awal terhadap ketatnya kebijakan moneter dan perubahan ekspektasi pasar terkait Federal Reserve. Bitwise menyatakan Bitcoin sudah menyesuaikan diri lebih awal terhadap kondisi makroekonomi yang memburuk dibandingkan saham.
Kenaikan harga energi akibat konflik AS-Iran di Selat Hormuz mendorong inflasi naik dan menyebabkan perubahan ekspektasi pasar terhadap pemotongan suku bunga The Fed. Pasar saham merespon dengan penurunan signifikan, sementara Bitcoin dinilai sudah melalui penyesuaian harga yang luas berdasarkan indikator Mayer Multiple yang berada pada level rendah sejak awal tahun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa saham lebih rentan terhadap risiko makroekonomi negatif karena masih berada di level valuasi tinggi. Di sisi lain, stablecoin juga mengalami perkembangan signifikan di era institusional, terutama di Amerika Utara, yang semakin menguatkan ekosistem keuangan terdesentralisasi.
Analisis Ahli
Luke Deans
Bitcoin biasanya bereaksi lebih awal terhadap pergeseran selera risiko dan likuiditas, sehingga saat ini sudah mencerminkan ekspektasi ketatnya kebijakan moneter yang akan datang.

