OpenAI Hentikan Sora, Aplikasi Deepfake AI yang Kontroversial dan Terlalu Cepat Meredup
Teknologi
Kecerdasan Buatan
25 Mar 2026
274 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Sora tidak mampu mempertahankan minat pengguna setelah peluncurannya yang awalnya sukses.
Teknologi deepfake memiliki potensi untuk menyebabkan kontroversi dan masalah etika yang signifikan.
Keterlibatan perusahaan besar seperti Disney menunjukkan adanya minat dalam kolaborasi di bidang kecerdasan buatan, meskipun hasilnya tidak selalu berhasil.
OpenAI mengumumkan penutupan aplikasi sosial Sora yang berfungsi seperti TikTok dengan fitur pembuatan deepfake AI yang memungkinkan pengguna membuat video dengan wajah mereka. Fitur 'characters' yang semula disebut 'cameos' mengundang kontroversi hukum dan etika sejak peluncurannya enam bulan lalu. Penutupan ini tidak disertai alasan resmi atau tanggal penghentian yang pasti.
Sora mengalami penurunan signifikan dalam jumlah unduhan, dari puncak 3,3 juta menjadi sekitar 1,1 juta. Aplikasi tersebut juga menghadapi masalah serius terkait kurangnya moderasi dan penyalahgunaan fitur untuk membuat konten dengan tokoh publik tanpa izin, hingga pelanggaran hak cipta karakter populer. Disney sempat menawarkan investasi dan lisensi senilai 1 miliar dolar yang batal terlaksana seiring penutupan aplikasi.
Meskipun aplikasi Sora dihentikan, teknologi inti Sora 2 masih tersedia melalui ChatGPT berbayar. Hal ini menunjukkan ancaman dan tantangan penggunaan AI deepfake akan tetap ada dan makin berkembang. Dunia harus bersiap menghadapi generasi aplikasi sosial baru yang membawa potensi besar sekaligus risiko besar bagi privasi dan etika.
Analisis Ahli
Timnit Gebru
Pengembangan teknologi AI seperti Sora harus selalu memperhatikan risiko penyalahgunaan dan dampak sosialnya, termasuk potensi pelanggaran hak privasi dan penyebaran informasi palsu.Andrew Ng
Inovasi AI sangat menarik, tapi komersialisasi yang berhasil harus didukung oleh model bisnis yang berkelanjutan dan pemahaman mendalam terhadap perilaku pengguna.

