Lonjakan Harga Minyak Dorong Peralihan Global ke Mobil Listrik Cina
Teknologi
Kendaraan Listrik dan Baterai
24 Mar 2026
245 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Kenaikan harga minyak dapat mempercepat transisi ke mobil listrik.
Perusahaan China, terutama BYD, diuntungkan dari meningkatnya permintaan mobil listrik.
Laporan dari berbagai lembaga menunjukkan adopsi kendaraan listrik yang pesat di negara-negara berkembang.
Harga minyak dunia naik tajam hingga 50 persen akibat perang AS-Israel terhadap Iran dan ancaman penutupan Selat Hormuz. Kenaikan ini menciptakan insentif kuat bagi konsumen untuk beralih ke kendaraan listrik. Dampaknya bisa menggeser pasar otomotif global secara signifikan.
David Brown dari Wood Mackenzie dan Justin Feng dari HSBC menyoroti tren bahwa kendaraan listrik, khususnya merek Cina, makin diminati. Brasil menjadi pasar terbesar luar negeri untuk BYD, dan jumlah negara dengan penjualan EV lebih dari 10 persen melonjak dari 4 menjadi 39 negara sejak 2019. Negara berkembang cepat mengadopsi EV lebih dibanding negara maju.
Jika kondisi geopolitik dan harga minyak yang volatile terus berlanjut, adopsi kendaraan listrik akan semakin meluas khususnya di Asia dan negara berkembang. Hal ini dapat mempercepat transisi energi bersih sekaligus menguntungkan produsen EV murah dari Cina seperti BYD.
Analisis Ahli
David Brown
Penutupan Selat Hormuz benar-benar dapat menjadi titik balik strategis untuk adopsi kendaraan listrik secara global.Justin Feng
Volatilitas harga minyak yang tinggi jelas dapat mengubah persepsi konsumen terhadap biaya kendaraan listrik dan mendorong percepatan elektrifikasi transportasi di Asia.

