Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

2025 Tahun Terpanas Kedua: Bukti Kuat Krisis Perubahan Iklim Global

Sains
Iklim dan Lingkungan
NatureMagazine NatureMagazine
23 Mar 2026
142 dibaca
1 menit
2025 Tahun Terpanas Kedua: Bukti Kuat Krisis Perubahan Iklim Global

Rangkuman 15 Detik

Laporan menunjukkan bahwa suhu global terus meningkat dan mencapai rekor tertinggi.
Pengukuran ketidakseimbangan energi Bumi menjadi indikator yang lebih akurat untuk memahami pemanasan global.
Kondisi es laut di Antartika dan Arktik menunjukkan penurunan yang signifikan, menandakan dampak perubahan iklim yang mendalam.
Laporan World Meteorological Organization mengungkapkan bahwa 11 tahun terakhir adalah yang terpanas dalam sejarah pengamatan dengan 2025 menjadi tahun kedua atau ketiga terpanas. Data menunjukkan peningkatan suhu dan rekor tingkat karbon dioksida serta panas lautan yang memecahkan rekor. Penurunan es laut di kutub menandai dampak nyata pemanasan global yang semakin parah. Laporan juga memperkenalkan Earth’s Energy Imbalance (EEI) sebagai indikator baru untuk mengukur pemanasan bumi yang menunjukkan tingkat tertinggi sejak 1960. Para ilmuwan menggarisbawahi bahwa sebagian besar panas berlebih bumi tersimpan dalam lautan, bukan hanya di atmosfer. Hal ini menunjukkan bahwa pengukuran suhu permukaan memberikan gambaran yang kurang lengkap dan menyesatkan tentang dampak pemanasan global. Kondisi iklim yang memburuk berpotensi membawa perubahan besar di masa depan seperti peningkatan kejadian cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut, dan hilangnya habitat es. Para ilmuwan mendesak langkah cepat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan pemantauan menggunakan indikator EEI. Kesadaran masyarakat dan kebijakan global menjadi kunci dalam menghadapi krisis iklim ini.

Analisis Ahli

Mandy Freund
Kecepatan kenaikan suhu, pemanasan lautan, dan pencairan es glasial saat ini sangat mengkhawatirkan dan menandai era baru perubahan iklim yang sulit diantisipasi.
Sarah Perkins-Kirkpatrick
Lonjakan suhu dalam tiga tahun terakhir merupakan bukti kuat bahwa perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak segera dihentikan.
Thomas Mortlock
Penggunaan EEI sebagai indikator mengubah perspektif kita dalam memantau pemanasan bumi karena hampir seluruh panas berlebih tersimpan di lautan, bukan atmosfer.