TLDR
Hurricane Melissa menjadi badai terkuat di Atlantik dengan kecepatan angin maksimum 190 mph. Laporan dari NHC menunjukkan pentingnya penggunaan dropsonde dalam pengukuran badai. Badai ini menyebabkan dampak besar di beberapa negara Karibia, termasuk Jamaika, dengan banyak korban jiwa. Laporan terbaru dari National Hurricane Center (NHC) mengkonfirmasi bahwa Hurricane Melissa yang terjadi pada tahun 2025 memiliki kekuatan yang luar biasa, menjadikannya salah satu badai paling hebat dalam sejarah Samudra Atlantik. Dahulu, badai ini diketahui sebagai yang terkuat saat mendarat di Jamaika, namun data terbaru menunjukkan bahwa kecepatan angin maksimalnya bahkan lebih tinggi dari perkiraan awal.Dengan kecepatan angin maksimum mencapai 190 mph, Melissa menyamai rekor Hurricane Allen tahun 1980 untuk angin terkuat yang pernah tercatat di daerah Atlantik. Pengukuran ini didapat dari kombinasi data berbagai alat termasuk pesawat Hurricane Hunter dan sensor dropsonde yang diterjunkan langsung ke dalam badai.Dropsonde yang digunakan mencatat kecepatan angin mencapai 252 mph, yang merupakan kecepatan angin tertinggi pernah diukur dalam badai tropis manapun di dunia. Ini melampaui rekor sebelumnya dari Super Typhoon Megi yang mencatat 240,5 mph. Tekanan sentral badai juga sangat rendah yaitu 892 mb, menjadikan Melissa sebagai badai dengan tekanan terendah ketiga setelah badai Wilma dan Gilbert.Badai ini memberikan dampak besar dengan sedikitnya 95 korban jiwa dan kerusakan di beberapa negara Karibia seperti Jamaika, Kuba, Haiti, Republik Dominika, dan Bahama. Kejadian ini mengingatkan pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan untuk menghadapi badai yang sangat kuat.Penemuan terbaru ini akan membantu para ilmuwan dan pihak berwenang untuk lebih baik dalam memprediksi dan mengantisipasi badai semacam ini. Dengan teknologi pengukuran yang lebih canggih, respons terhadap bencana dapat lebih cepat dan strategi mitigasi dapat ditingkatkan agar masyarakat bisa terlindungi lebih baik.