Potensi Perbedaan Penentuan Hari Raya Idulfitri 1447 H di Indonesia
Courtesy of CNBCIndonesia

Potensi Perbedaan Penentuan Hari Raya Idulfitri 1447 H di Indonesia

Menjelaskan potensi perbedaan penentuan Hari Raya Idulfitri 1447 H di Indonesia serta memberikan referensi ilmiah dan keputusan akhirnya yang akan didasarkan pada sidang isbat pemerintah.

26 Feb 2026, 03.15 WIB
175 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Perbedaan penentuan awal bulan Ramadhan dan Hari Raya Idulfitri dapat terjadi di Indonesia.
  • Kriteria MABIMS dan KHGT digunakan untuk menentukan hilal dan awal bulan dalam kalender hijriah.
  • Muhammadiyah mengumumkan penetapan tanggal 1 Syawal berdasarkan metode hisab, berbeda dengan keputusan Kementerian Agama.
Jakarta, Indonesia - Umat Muslim di Indonesia sebelumnya mengalami perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan 1447 Hijriah. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah perbedaan serupa juga akan terjadi pada penentuan Hari Raya Idulfitri nantinya. Penentuan tanggal awal syawal sangat krusial karena berpengaruh pada tanggal pelaksanaan Idulfitri di berbagai daerah.
Thomas Djamaluddin, seorang peneliti dari BRIN, menjelaskan bahwa hilal atau bulan sabit yang menandai awal Syawal belum memenuhi kriteria dari MABIMS pada 19 Maret 2026. Kriteria MABIMS sendiri mensyaratkan hilal terlihat dengan tinggi minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimum 6,4 derajat untuk menyatakan satu Syawal.
Dengan kriteria tersebut, 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026, namun kepastian tanggal tersebut masih menunggu keputusan resmi dari sidang isbat yang digelar Kementerian Agama. Sidang isbat akan memutuskan tanggal resmi Hari Raya berdasarkan informasi hilal dan hisab serta rukyat yang ada.
Namun, menurut Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT, posisi bulan sudah memenuhi kriteria pada 19 Maret 2026, sehingga menurut metode ini 1 Syawal jatuh pada 20 Maret 2026. Muhammadiyah memanfaatkan metode hisab berdasarkan KHGT dan telah menetapkan 1 Syawal 1447 H bertepatan pada tanggal tersebut.
Perbedaan metode dan kriteria inilah yang menjadi sumber potensial perbedaan waktu perayaan Idulfitri di Indonesia. Meski demikian, keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat tetap menjadi acuan utama bagi sebagian besar umat Muslim di Tanah Air.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260225171124-37-713903/brin-jelaskan-alasan-hari-lebaran-2026-beda-tanggal-tidak-berbarengan

Analisis Ahli

Thomas Djamaluddin
"Ilmuwan astronomi yang menekankan pentingnya kriteria hilal secara objektif untuk menentukan tanggal awal Syawal dan menunjukkan perbedaan antar metode hisab dan rukyat."
Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah
"Mengusung metode hisab hakiki berbasis KHGT agar penentuan tanggal hijriah menjadi lebih independen dan terstandarisasi secara global."

Analisis Kami

"Perbedaan penentuan awal Syawal menggambarkan tantangan sinkronisasi metode hisab dan rukyat di Indonesia yang sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai standar internasional. Ketergantungan pada sidang isbat masih menjadi solusi politik-religius utama untuk mencoba menyatukan keputusan yang secara ilmiah bisa saja berbeda."

Prediksi Kami

Perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 H berpotensi terjadi antara pemerintah dan ormas seperti Muhammadiyah, yang dapat menimbulkan perbedaan pelaksanaan Hari Raya Idulfitri di Indonesia.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang menyebabkan perbedaan awal bulan Ramadhan 1447 Hijriah di Indonesia?
A
Perbedaan awal bulan Ramadhan disebabkan oleh perbedaan kriteria pengamatan hilal di lokal dan secara global.
Q
Apa kriteria MABIMS untuk penentuan hilal?
A
Kriteria MABIMS mensyaratkan hilal terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.
Q
Kapan 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh menurut MABIMS?
A
Menurut MABIMS, 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.
Q
Bagaimana Muhammadiyah menentukan tanggal 1 Syawal 1447 H?
A
Muhammadiyah menentukan tanggal 1 Syawal 1447 H berdasarkan metode hisab hakiki dengan rujukan KHGT, yaitu pada 20 Maret 2026.
Q
Apa yang dimaksud dengan KHGT?
A
KHGT atau Kalender Hijriah Global Tunggal adalah kategori yang digunakan untuk menentukan posisi bulan berdasarkan ijtimak.