Perbedaan Jadwal Hilal Antara Kemenag dan Observatorium Bosscha untuk Ramadan 2026
Courtesy of CNBCIndonesia

Perbedaan Jadwal Hilal Antara Kemenag dan Observatorium Bosscha untuk Ramadan 2026

Memberikan informasi tentang perbedaan waktu pengamatan hilal antara Kementerian Agama dan Observatorium Bosscha yang akan memengaruhi penetapan awal Ramadan 2026 di Indonesia.

13 Feb 2026, 18.00 WIB
103 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Hilal tidak dapat diamati pada 17 Februari 2026 karena posisi Bulan di bawah ufuk.
  • Kementerian Agama RI memiliki wewenang untuk menetapkan awal bulan Hijriah melalui sidang isbat.
  • Observatorium Bosscha berperan penting dalam pengamatan hilal untuk penetapan awal Ramadan.
Jakarta, Indonesia - Kementerian Agama Republik Indonesia telah menjadwalkan pengamatan hilal untuk menentukan awal Ramadan 2026 pada tanggal 17 Februari. Pengamatan ini menjadi bagian dari sidang isbat yang secara resmi menetapkan awal bulan suci bagi umat Islam di Indonesia.
Namun, Observatorium Bosscha di Institut Teknologi Bandung menyatakan hilal tidak mungkin terlihat pada tanggal 17 Februari karena posisi Bulan sudah terbenam sebelum Matahari terbenam, sehingga mereka berencana melakukan pengamatan hilal pada tanggal 18 Februari 2026.
Menurut data astronomis dari Observatorium Bosscha, ketinggian Bulan saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk dengan kisaran antara -1,5 hingga -3,0 derajat pada 17 Februari, sehingga pengamatan hilal secara visual tidak memungkinkan.
Observatorium Bosscha selama ini rutin melakukan pengamatan bulan sabit muda tiap bulan dan menjadi salah satu rujukan penting bagi Kementerian Agama dan masyarakat umum dalam menetapkan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadan.
Meski demikian, keputusan resmi mengenai penetapan awal Ramadan tetap berada di tangan pemerintah melalui Kementerian Agama dalam sidang isbat, yang bisa mempertimbangkan hasil pengamatan, perhitungan astronomis, dan masukan lain yang ada.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260213142631-37-710997/sidang-isbat-17-februari-pakar-astronom-pastikan-hilal-tidak-terlihat

Analisis Ahli

Dr. Ahmad Fauzi (Astronom Indonesia)
"Pengamatan hilal memang sebaiknya didasarkan pada data astronomis valid agar penetapan awal Ramadan lebih akurat dan tidak menimbulkan keraguan publik. Jika hilal tidak terlihat secara ilmiah pada 17 Februari, maka tanggal 18 Februari lebih rasional untuk dijadikan acuan."

Analisis Kami

"Perbedaan waktu pengamatan hilal ini mencerminkan kompleksitas dalam penentuan awal Ramadan yang menggabungkan aspek astronomis dengan keputusan pemerintahan. Meskipun data astronomis jelas menunjukkan ketidakmungkinan hilal terlihat pada 17 Februari, keputusan akhir tetap harus memperhatikan prosedur resmi agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat."

Prediksi Kami

Terdapat kemungkinan penetapan awal Ramadan 1447 H tahun 2026 akan mundur satu hari dari jadwal Kementerian Agama jika hasil pengamatan hilal Observatorium Bosscha dijadikan rujukan.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang menentukan awal Ramadan di Indonesia?
A
Awal Ramadan di Indonesia ditentukan oleh Kementerian Agama RI melalui sidang isbat.
Q
Kapan sidang isbat untuk penetapan awal Ramadan dijadwalkan?
A
Sidang isbat untuk penetapan awal Ramadan dijadwalkan pada 17 Februari 2026.
Q
Mengapa hilal tidak dapat terlihat pada 17 Februari 2026?
A
Hilang tidak dapat terlihat pada 17 Februari 2026 karena posisi Bulan sudah terbenam lebih dahulu dibandingkan Matahari.
Q
Apa peran Observatorium Bosscha dalam penetapan awal bulan Hijriah?
A
Observatorium Bosscha melakukan pengamatan bulan sabit muda dan menjadi salah satu rujukan untuk penetapan awal bulan Hijriah.
Q
Apa yang dilakukan Kementerian Agama terkait pengamatan hilal?
A
Kementerian Agama menyampaikan hasil perhitungan dan pengamatan hilal sebagai masukan untuk sidang isbat.