Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

F-22 dan Drone Otonom Gabung dalam Demo Tempur Udara Masa Depan

Teknologi
Kecerdasan Buatan
artificial-intelligence (1mo ago) artificial-intelligence (1mo ago)
24 Feb 2026
192 dibaca
2 menit
F-22 dan Drone Otonom Gabung dalam Demo Tempur Udara Masa Depan

Rangkuman 15 Detik

Demonstrasi penerbangan menunjukkan kemajuan dalam teknologi otonomi untuk misi militer.
Kolaborasi antara pilot manusia dan pesawat tak berawak dapat meningkatkan efektivitas operasi udara.
Angkatan Udara AS berfokus pada integrasi sistem otonomi untuk mendukung pesawat tempur generasi kelima.
Angkatan Udara Amerika Serikat melakukan demonstrasi penerbangan langsung yang memperlihatkan kerja sama antara pesawat tempur F-22 Raptor yang dikendalikan manusia dengan drone otonom MQ-20 Avenger. Dalam uji coba ini, pilot F-22 mengarahkan drone menggunakan perangkat lunak otonomi canggih dan tautan data taktis yang aman di Edwards Air Force Base, California. Pada misi tersebut, MQ-20 merespon perintah untuk mengubah jalur penerbangan, melakukan patroli udara, dan menghadapi ancaman simulasi secara mandiri memakai sensor onboard-nya. Sistem Autonodyne Bashi membantu F-22 mengendalikan drone secara efisien, membuka jalan bagi integrasi Collaborative Combat Aircraft (CCA) dalam operasi tempur udara. Demonstrasi ini juga memperkuat validasi Arsitektur Referensi Otonomi Pemerintah (A-GRA), yang telah diuji oleh berbagai vendor termasuk Collins Aerospace dan General Atomics. Salah satu platform CCA yang diuji adalah YFQ-42A, yang mendapatkan julukan 'Dark Merlin' dan sudah berhasil menyelesaikan misi semi-otonom selama lebih dari empat jam. General Atomics telah mengembangkan MQ-20 Avenger sebagai pesawat surrogate CCA selama lebih dari lima tahun, sambil terus mengembangkan platform lain seperti XQ-67A dan YFQ-42A. Tujuannya adalah supaya pesawat kawalan manusia dapat bekerja sama dengan drone otonom dalam meningkatkan daya jangkau sensor dan efektivitas serangan di lingkungan yang berisiko tinggi. Model operasi ini menempatkan pilot manusia sebagai komandan yang membuat keputusan kompleks, sementara drone otonom mengambil alih tugas taktis yang berulang dan berisiko. Demonstrasi di Edwards merupakan langkah penting menuju penerapan teknologi ini dalam operasi tempur nyata kedepannya.

Analisis Ahli

David R. Alexander
Keberhasilan demonstrasi menunjukkan bahwa teknologi otonomi saat ini sudah matang untuk mulai diintegrasikan dalam operasi militer, memungkinkan misi yang lebih kompleks dengan risiko yang lebih rendah bagi pilot.