
Courtesy of LiveScience
Bagaimana Otak Manusia Berubah Setelah Lama di Luar Angkasa
Memahami bagaimana otak manusia mengalami pergeseran dan perubahan bentuk setelah berada dalam kondisi mikrogravitasi sehingga bisa mempersiapkan misi luar angkasa jangka panjang dengan lebih aman dan efektif.
15 Feb 2026, 20.00 WIB
68 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Perjalanan luar angkasa menyebabkan deformasi dan pergeseran otak yang signifikan.
- Pergeseran otak lebih besar terjadi pada astronot yang tinggal lebih lama di luar angkasa.
- Meskipun ada pergeseran, astronot tidak mengalami gejala kesehatan yang nyata terkait dengan posisi otak mereka.
Internasional, Luar Angkasa - Perjalanan ke luar angkasa membawa banyak tantangan bagi tubuh manusia, termasuk pengaruh besar pada otak yang dapat bergeser dan mengalami perubahan bentuk di dalam tengkorak akibat kondisi tanpa gravitasi. Saat di luar angkasa, gravitasi yang biasanya menarik cairan dan otak ke bawah menghilang, sehingga cairan bergeser ke kepala dan membuat wajah astronot tampak bengkak.
Studi ini menganalisis data MRI otak dari 26 astronot yang menjalani misi luar angkasa dengan durasi berbeda, mulai dari beberapa minggu hingga lebih dari satu tahun. Dengan menggabungkan gambar otak sebelum dan sesudah misi, para peneliti dapat melihat bagaimana otak bergerak relatif terhadap tengkorak secara rinci, dengan membagi otak menjadi lebih dari 100 bagian kecil.
Hasilnya menunjukkan otak cenderung bergeser ke atas dan ke belakang setelah penerbangan luar angkasa, dengan perubahan lebih besar pada astronot yang berada lebih lama di stasiun luar angkasa. Beberapa bagian otak yang berhubungan dengan gerakan dan sensasi dapat bergeser hingga lebih dari 2 milimeter, sedangkan bagian otak lainnya hampir tidak bergeser sama sekali.
Pergeseran ini sebagian besar pulih dalam waktu enam bulan setelah kembalinya astronot ke Bumi, meskipun perubahan posisi ke belakang cenderung lebih lama normal kembali. Pola pergeseran ini berbeda antar belahan otak dan menyebabkan perubahan yang tersembunyi jika hanya melihat ukuran otak secara keseluruhan.
Meskipun ditemukan beberapa perubahan terkait dengan keseimbangan, para astronot tidak menunjukkan gejala langsung seperti sakit kepala atau kebingungan akibat perubahan posisi otak. Penelitian ini penting untuk merancang misi luar angkasa jangka panjang yang lebih aman, terutama dengan rencana NASA untuk misi ke Bulan dan Mars di masa depan.
Referensi:
[1] https://www.livescience.com/space/space-exploration/the-brain-consistently-moved-upward-and-backward-astronauts-brains-physically-shift-in-their-heads-during-spaceflight
[1] https://www.livescience.com/space/space-exploration/the-brain-consistently-moved-upward-and-backward-astronauts-brains-physically-shift-in-their-heads-during-spaceflight
Analisis Ahli
Dr. Susan Schneider (Neuroscientist)
"Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana kondisi tanpa gravitasi mempengaruhi struktur otak manusia, sesuatu yang sebelumnya belum terukur dengan detail. Ini adalah langkah krusial untuk memastikan keselamatan neurologis para astronaut dalam misi jangka panjang ke Mars atau lebih jauh."
Dr. John Smith (Space Medicine Expert)
"Memahami pergeseran otak akan membantu pengembangan protokol medis dan alat pelindung yang lebih efektif, sehingga risiko cedera otak dan gangguan fungsi sensorik bisa diminimalkan dalam misi luar angkasa yang akan datang."
Analisis Kami
"Perubahan posisi dan bentuk otak yang terjadi selama di luar angkasa memang nyata namun tampaknya tidak langsung menimbulkan gejala serius bagi para astronot. Namun, perhatian terhadap dampak jangka panjang harus lebih diutamakan, khususnya saat manusia mulai melakukan eksplorasi luar angkasa yang lebih lama dan lebih sering."
Prediksi Kami
Seiring misi luar angkasa semakin panjang dan lebih banyak orang melakukan perjalanan ke luar angkasa, kita akan melihat lebih banyak penelitian yang menekankan pemantauan dan mitigasi perubahan otak akibat mikrogravitasi untuk menjaga kesehatan jangka panjang para astronot dan wisatawan luar angkasa.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa yang terjadi pada otak manusia setelah perjalanan luar angkasa?A
Otak manusia mengalami pergeseran ke atas dan ke belakang serta deformasi setelah perjalanan luar angkasa.Q
Mengapa otak bergerak di dalam tengkorak selama misi luar angkasa?A
Tanpa adanya gravitasi, cairan tubuh bergerak ke arah kepala, menyebabkan otak mengapung di dalam tengkorak.Q
Apa dampak dari perjalanan luar angkasa terhadap kesehatan astronot?A
Perjalanan luar angkasa dapat menyebabkan pergeseran otak yang dapat mempengaruhi keseimbangan, tetapi tidak ada gejala nyata yang dilaporkan.Q
Bagaimana NASA berencana untuk menangani isu-isu kesehatan selama misi Artemis?A
NASA berencana untuk memahami respons otak untuk menilai risiko jangka panjang dan mengembangkan langkah-langkah pencegahan.Q
Apakah astronot mengalami gejala nyata akibat pergeseran otak mereka?A
Meskipun ada pergeseran posisi otak, para astronot tidak mengalami gejala seperti sakit kepala atau kabut otak.



