
Courtesy of CNBCIndonesia
Pendiri Pasar Narkoba Online Terbesar Divonis 30 Tahun Penjara di AS
Memberikan informasi tentang penangkapan dan vonis terhadap pendiri pasar narkoba online terbesar yang menggunakan teknologi blockchain dan cryptocurrency, sekaligus menyoroti dampak kriminalitas digital pada masyarakat global.
08 Feb 2026, 17.30 WIB
170 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Rui-Siang Lin divonis penjara 30 tahun karena terlibat dalam pasar narkoba online terbesar.
- Incognito Market beroperasi secara anonim dan menggunakan cryptocurrency untuk transaksi.
- Kejahatan Lin memiliki dampak yang menghancurkan pada masyarakat, termasuk krisis opioid dan kematian pengguna narkoba.
New York, Amerika Serikat - Rui-Siang Lin, seorang pria berusia 24 tahun dari Taiwan, baru saja dijatuhi hukuman penjara selama 30 tahun oleh pengadilan di New York, Amerika Serikat. Ia didakwa karena mengoperasikan sebuah pasar narkoba online bernama Incognito Market, yang disebut terbesar setelah Silk Road. Platform ini menggunakan cryptocurrency untuk menjual obat-obatan terlarang secara anonim di seluruh dunia.
Incognito Market beroperasi sejak Oktober 2020 hingga Maret 2024, dan berhasil melakukan transaksi narkoba senilai lebih dari 105 juta dolar AS. Dalam platform ini, narkoba seperti kokain, methamphetamine, heroin, dan obat resep palsu bisa dibeli oleh ratusan ribu pengguna. Total transaksi yang terjadi mencapai lebih dari 640.000 transaksi secara global.
Menurut Jaksa Agung AS Jay Clayton, Lin adalah salah satu pengedar narkotika paling produktif di dunia melalui internet. Meski menghasilkan jutaan dolar, tindakannya menyebabkan kematian minimal satu orang dan memperparah krisis opioid yang sedang melanda. Lebih dari 470.000 pengguna narkoba dan keluarganya mengalami dampak buruk akibat peredaran narkoba ini.
Penyelidik mampu melacak Lin dan operasinya sejak awal karena dia melakukan kesalahan keamanan, salah satunya menggunakan nama asli serta nomor telepon dan alamat saat mendaftarkan domain pasar tersebut. Selain itu, analisis blockchain dan metode pembelian terselubung juga membantu penegak hukum berhasil mengungkap jaringan ini.
Lin sendiri berpendidikan di Universitas Nasional Taiwan dan pernah menjalani layanan nasional alternatif di St. Lucia, di mana ia membantu dan mengajar aparat polisi setempat tentang kejahatan siber dan cryptocurrency. Kasus ini menjadi peringatan penting mengenai bahaya penggunaan teknologi modern untuk kejahatan dunia maya.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260207204522-37-709133/gen-z-umur-24-tahun-jadi-bandar-narkoba-paling-produktif-di-dunia
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260207204522-37-709133/gen-z-umur-24-tahun-jadi-bandar-narkoba-paling-produktif-di-dunia
Analisis Ahli
Ahli Kejahatan Siber
"Kasus ini menandai perlunya kolaborasi internasional lebih erat dalam memerangi pasar gelap online yang menggunakan teknologi terbaru, serta pengembangan alat analisis blockchain yang lebih efektif."
Spesialis Forensik Digital
"Kegagalan operasional dalam keamanan platform menjadi titik lemah yang bisa dimanfaatkan penegak hukum, sehingga sangat penting bagi pelaku kriminal untuk lebih memahami aspek keamanan digital agar bisa menghindari deteksi."
Analisis Kami
"Kasus Rui-Siang Lin menunjukkan bagaimana teknologi modern seperti blockchain dan cryptocurrency dapat digunakan untuk kegiatan ilegal dengan skala masif, yang mengancam kestabilan sosial dan kesehatan masyarakat. Ke depan, penegakan hukum harus terus beradaptasi dengan teknologi baru agar dapat memerangi kejahatan siber yang semakin canggih."
Prediksi Kami
Kasus ini akan mendorong peningkatan regulasi dan pengawasan ketat terhadap penggunaan cryptocurrency dalam transaksi ilegal serta memperkuat teknologi pelacakan transaksi digital oleh penegak hukum.





