OJK Catat Lonjakan Besar Kasus Scam di Indonesia, Jawa Terbanyak
Finansial
Perbankan dan Layanan Keuangan
24 Jan 2026
187 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Terdapat lonjakan kasus scam yang mengkhawatirkan di Indonesia, khususnya di sektor jasa keuangan.
OJK berusaha memblokir rekening dan menyelamatkan dana korban scam meskipun menghadapi tantangan besar.
Sebagian besar laporan pengaduan datang dari Pulau Jawa, menunjukkan tingginya eskalasi kejahatan penipuan di masyarakat.
Kasus penipuan atau scam semakin marak di Indonesia, terutama di wilayah Jawa yang mendominasi laporan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lebih dari 432 ribu laporan pengaduan hingga bulan Januari 2026. Penipuan ini banyak menyerang sektor jasa keuangan dan transaksi digital masyarakat.
OJK sudah memblokir hampir 400 ribu rekening terkait aktivitas scam ini untuk mengurangi kerugian korban. Meski begitu, kerugian dana masyarakat tetap mencapai Rp 9,1 triliun. Dana yang berhasil diselamatkan mencapai Rp 432 miliar, menunjukkan perlunya peningkatan tindakan preventif.
Penipuan yang sering terjadi antara lain transaksi belanja palsu, panggilan palsu, investasi bodong, penipuan kerja, dan janji hadiah. Mayoritas laporan datang dari Pulau Jawa, dengan jumlah laporan mencapai lebih dari 303 ribu, disusul oleh wilayah Sumatra.
OJK menghadapi beberapa tantangan dalam penanganan kasus ini, seperti laporan yang terlambat dilaporkan oleh korban dan pola pelarian dana yang semakin rumit. Dana hasil penipuan kini bisa berpindah antar bank, dompet elektronik, aset kripto, dan layanan digital lain dalam waktu singkat.
Karena kondisi ini, OJK mendorong kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan serta negara lain untuk mempercepat proses pemblokiran dana dan menanggulangi pinjaman online ilegal atau pinjol yang sering menjadi sarana penipuan. Kesadaran dan edukasi masyarakat juga sangat penting untuk mengantisipasi penipuan.
Analisis Ahli
Friderica Widyasari Dewi
Tingginya jumlah laporan scam menunjukkan eskalasi kejahatan penipuan digital yang membutuhkan kerja sama lintas negara dan lintas sektor untuk pencegahan dan penanganan lebih efisien.

