Temuan Cap Tangan Tertua di Indonesia Ungkap Manusia Modern Mulai Menjelajah Laut Sejak 67.800 Tahun Lalu
Courtesy of CNBCIndonesia

Temuan Cap Tangan Tertua di Indonesia Ungkap Manusia Modern Mulai Menjelajah Laut Sejak 67.800 Tahun Lalu

Mengungkap dan menegaskan sejarah seni cadas tertua di Indonesia serta membuktikan migrasi dan penjelajahan laut manusia modern yang lebih awal dari yang selama ini diketahui untuk memperkaya pemahaman sejarah manusia di kawasan Nusantara dan dunia.

22 Jan 2026, 16.40 WIB
11 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Temuan cap tangan di Pulau Muna memberikan bukti penting tentang seni simbolik awal manusia.
  • Penelitian ini menunjukkan bahwa manusia modern telah menyeberangi laut lebih dari 67.000 tahun yang lalu.
  • Sulawesi diakui sebagai salah satu pusat budaya artistik tertua dan berkelanjutan di dunia.
Jakarta, Indonesia - Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama Griffith University dan Southern Cross University, menemukan cap tangan berusia minimum 67.800 tahun di gua batu kapur di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Temuan ini mengubah sejarah seni simbolik dan migrasi manusia modern yang selama ini diketahui.
Cap tangan di Liang Metanduno ini merupakan seni cadas tertua yang pernah ditemukan, lebih tua hingga 16.600 tahun dibanding temuan di Maros-Pangkep dan 1.100 tahun lebih tua dibanding cap tangan tertua di Spanyol. Hal ini menegaskan bahwa manusia purba di Nusantara telah menyeberangi laut sejak lebih dari 67 ribu tahun lalu.
Penelitian ini menggunakan teknologi penanggalan LA-U-series yang sangat presisi, memungkinkan penentuan usia seni cadas dengan lebih akurat. Temuan ini memperbaiki pemahaman tentang peran kawasan Wallacea yang bukan hanya jalur transit melainkan ruang hidup utama manusia modern awal.
Para peneliti menyatakan kemungkinan populasi pembuat lukisan ini menyebar lebih jauh ke bagian timur hingga mencapai Australia. Penemuan ini juga mendukung model bahwa leluhur masyarakat Aborigin telah berada di daratan Sahul setidaknya 65 ribu tahun lalu.
Dengan penemuan ini, Sulawesi dianggap sebagai salah satu pusat budaya artistik tertua dan terpanjang di dunia. Temuan ini membuka peluang untuk studi lebih lanjut mengenai evolusi budaya dan kemampuan simbolik manusia modern di wilayah Asia Tenggara.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260122130453-37-704365/orang-australia-ternyata-keturunan-sulawesi-brin-temukan-buktinya

Analisis Ahli

Adhi Agus Oktaviana
"Penemuan ini memperkuat bukti bahwa manusia modern telah menetap dan melakukan seni simbolik di Nusantara jauh lebih awal, serta mengubah pemahaman kita tentang jalur migrasi manusia ke Australia."
Maxime Aubert
"Sulawesi memiliki warisan budaya seni cadas yang sangat tua dan berkelanjutan, menunjukkan kontinuitas artistik sejak fase awal manusia di kawasan ini."

Analisis Kami

"Temuan ini sangat signifikan karena menggeser paradigma migrasi manusia dan menegaskan peran penting Nusantara dalam sejarah manusia modern. Penelitian ini juga menonjolkan bagaimana teknologi modern mampu mengungkap misteri masa lalu dengan presisi yang belum pernah tercapai sebelumnya."

Prediksi Kami

Penemuan ini akan mendorong penelitian lanjutan terkait migrasi dan evolusi budaya manusia purba di kawasan Asia Tenggara, serta memicu penggalian dan kajian arkeologi yang lebih intensif di daerah Wallacea dan sekitarnya.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang ditemukan di Pulau Muna?
A
Ditemukan cap tangan berusia minimum 67.800 tahun di gua batu gamping Pulau Muna.
Q
Berapa usia minimum dari cap tangan yang ditemukan?
A
Usia minimum dari cap tangan tersebut adalah 67.800 tahun.
Q
Apa dampak dari temuan ini terhadap pemahaman migrasi manusia?
A
Temuan ini mengubah pemahaman tentang jalur migrasi manusia modern, menunjukkan bahwa Wallacea adalah ruang hidup utama bagi manusia modern awal.
Q
Siapa yang melakukan penelitian ini?
A
Penelitian dilakukan oleh tim kolaborasi internasional dari BRIN dan Griffith University serta Southern Cross University.
Q
Dalam jurnal apa temuan ini dipublikasikan?
A
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Nature.