TLDR
Kelompok peretas Iran Handala kembali aktif menggunakan Starlink meskipun ada upaya dari pemerintah untuk memadamkan komunikasi. Sinyal satelit yang terganggu dapat memberikan risiko keamanan bagi para peretas yang tetap online. Situasi ini menarik perhatian dari negara-negara seperti AS dan Israel yang memantau aktivitas siber di kawasan tersebut. Iran saat ini menghadapi pemadaman internet hampir total selama hampir 300 jam, yang dilakukan oleh pemerintah untuk membatasi komunikasi selama gelombang protes. Dalam situasi ini, Starlink muncul sebagai alternatif komunikasi yang menjanjikan bagi para pengunjuk rasa dan kelompok lain yang ingin tetap terhubung dengan dunia luar.Namun, penggunaan Starlink tidak berjalan mulus karena rezim Iran menggunakan teknologi satelit dari Rusia untuk menggagalkan upaya ini, sehingga akses komunikasi melalui Starlink sangat terganggu. Meski begitu, tidak semua akses komunikasi berhasil diputuskan secara total.Sebuah kelompok hacker Iran yang dikenal sebagai 'Handala Hack' justru mulai menggunakan jaringan Starlink untuk melancarkan serangan siber ke berbagai target di Timur Tengah, termasuk entitas dan pejabat pemerintah Israel. Ini merupakan kebangkitan aktivitas mereka setelah sempat berhenti selama pemadaman internet.Nariman Gharib, seorang pengamat teknologi, mengamati bahwa aktivitas ini merupakan kebodohan karena mereka menggunakan IP Starlink yang dapat memudahkan untuk dilacak, sementara pemerintah mereka sendiri secara aktif mengganggu sinyal satelit dari luar. Hal ini menjadi sebuah bencana dalam aspek keamanan operasi (OPSEC).Keberadaan aktivitas siber ini memberikan peluang intelijen penting bagi Amerika Serikat dan Israel, yang dapat memantau serangan dan mengidentifikasi lokasi fisik para pelaku, memperlihatkan bahwa meskipun hampir seluruh internet Iran terputus, mereka tetap rentan terhadap pemantauan dan serangan balik.