AI summary
Elon Musk mengklaim berhak atas kompensasi besar dari OpenAI setelah berkontribusi dalam pendiriannya. OpenAI dan Microsoft berkonflik dengan Musk terkait klaimnya dan menilai tuntutannya tidak berdasar. Musk mendirikan xAI setelah meninggalkan OpenAI, berusaha menciptakan pesaing dalam teknologi chatbot AI. Elon Musk, salah satu pendiri OpenAI, kini menuntut kompensasi besar setelah merasa 'ditendang' dari perusahaan AI yang dibangunnya bersama. Musk mengklaim dia berhak mendapat keuntungan senilai US$134 miliar atau sekitar Rp2.275 triliun atas kontribusinya di awal pembentukan OpenAI.Menurut dokumen pengadilan, Musk menyumbang sekitar US$38 juta untuk mendanai OpenAI, sekitar 60% dari dana awal perusahaan. Ia juga dikatakan membantu merekrut staf dan menggunakan jaringan relasinya untuk mendukung perusahaan saat baru berdiri pada tahun 2015.OpenAI membalas dengan menyangkal tuntutan Musk, bahkan menyebutnya sebagai kampanye pelecehan terhadap perusahaan. Microsoft, yang juga berinvestasi di OpenAI, tidak memberikan komentar resmi terkait tuntutan ini.Konflik ini semakin memanas ketika Musk mendirikan xAI, perusahaan pesaing OpenAI dengan produk chatbot AI bernama Grok. Musk juga mengkritik OpenAI karena beralih dari model non-profit ke for-profit, yang menurutnya melanggar misi pendiri awal.Persidangan antara Elon Musk, OpenAI, dan Microsoft dijadwalkan pada April 2026 di Oakland, California. Hasil persidangan ini nantinya akan jadi titik penting dalam menentukan nasib tuntutan dan kejelasan hak pendiri startup teknologi.
Konflik ini menunjukkan betapa rumitnya kepemilikan dan hak pendiri dalam perusahaan teknologi besar yang melibatkan investasi awal serta perubahan struktur bisnis. Jika Musk berhasil, bisa membuka pintu klaim besar dari pendiri startup lain, namun pihak OpenAI dan Microsoft sangat mungkin kuat bertahan karena status legal dan perubahan mereka selama ini.