
Courtesy of Forbes
AI dan Perubahan Iklim: Antara Harapan dan Risiko yang Kompleks
Artikel ini bertujuan untuk mendorong pemahaman yang lebih bernuansa tentang bagaimana AI berinteraksi dengan perubahan iklim, menghindari narasi hitam-putih yang bisa menghambat pemanfaatan manfaat AI sekaligus mengurangi risikonya, serta mengajak pembaca untuk memahami peran manusia dalam menentukan dampak AI terhadap iklim.
17 Jan 2026, 19.17 WIB
26 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Kecerdasan buatan memiliki potensi besar dalam membantu mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
- Diskusi mengenai AI dan perubahan iklim harus mempertimbangkan nuansa dan kompleksitas yang ada, bukan hanya pandangan hitam-putih.
- Tindakan manusia dan kebijakan yang diambil akan sangat mempengaruhi dampak kecerdasan buatan terhadap iklim.
Bangladesh, Bangladesh; Texas, Amerika Serikat; Louisiana, Amerika Serikat; China - Pembahasan tentang kecerdasan buatan (AI) dan perubahan iklim sering kali terjebak dalam pandangan hitam-putih, yaitu AI sebagai penyelamat yang bisa mengoptimalkan energi terbarukan atau sebagai musuh yang meningkatkan konsumsi energi dan penyebaran disinformasi. Padahal, hubungan antara AI dan perubahan iklim jauh lebih kompleks dan memerlukan pendekatan yang lebih terbuka dan interdisipliner. Banyak teknologi baru yang sebelumnya dianggap solusi pasti ternyata membawa dampak negatif yang tidak diinginkan, sehingga penting untuk tidak mengulangi kesalahan ini dalam konteks AI dan iklim.
Salah satu kritik utama terhadap AI adalah konsumsi energi dan air yang tinggi, terutama untuk pelatihan model AI berskala besar. Pusat data sekarang sudah menggunakan sekitar 4% listrik di Amerika Serikat dan akan berpotensi meningkat dua kali lipat. Beberapa pusat data besar memilih sumber energi fosil karena keterbatasan pasokan energi bersih dan kebutuhan daya tanpa henti. Selain itu, produksi hardware AI juga memiliki jejak karbon tersendiri yang sering tidak terlihat dalam laporan keberlanjutan perusahaan.
Selain dampak energi, AI juga berisiko memperparah ketidakadilan global di mana banyak alat AI dikembangkan berdasarkan data dari negara kaya, sehingga kurang efektif atau bahkan merugikan negara berkembang yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Disinformasi yang dipicu oleh AI juga dapat mengganggu konsensus politik dan dukungan publik untuk tindakan iklim yang penting. Oleh karena itu, kepercayaan sosial dan inklusivitas sangat diperlukan agar solusi berbasis AI dapat berhasil dan berkelanjutan.
Meskipun demikian, AI menyimpan potensi besar untuk membantu mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Contohnya termasuk memperkirakan output energi angin secara akurat, mengoptimalkan panel surya, memantau emisi dari satelit, dan memperbaiki sistem pertanian agar lebih efisien dalam penggunaan air dan pupuk. AI juga dapat memprediksi bencana alam lebih cepat serta mengelola infrastruktur perkotaan yang kompleks untuk mengurangi emisi dan pemborosan sumber daya.
Kesimpulannya, narasi hitam-putih mengenai AI dan iklim tidak hanya kurang tepat tapi juga berbahaya karena bisa menghalangi peluang maupun membiarkan risiko yang ada. Pendekatan yang lebih bernuansa dan inklusif harus diadopsi untuk mendorong kebijakan, investasi, dan pengembangan AI yang bertanggung jawab. Hanya dengan begitu AI bisa menjadi alat yang mempercepat kemajuan dalam menghadapi tantangan iklim global yang sangat kompleks.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/jamilwyne/2026/01/17/a-broader-conversation-on-climate-change-and-ai/
[1] https://www.forbes.com/sites/jamilwyne/2026/01/17/a-broader-conversation-on-climate-change-and-ai/
Analisis Ahli
Maria João Sousa
"AI tidak dapat dipandang sebagai solusi tunggal; ia membutuhkan pendekatan yang plural dan interdisipliner untuk mencapai hasil yang berkelanjutan."
Francisco Martin-Rayo
"Kita tidak bisa memilih menggunakan AI atau tidak; pertanyaannya adalah apakah kita memanfaatkannya untuk adaptasi cerdas atau memperbesar kegagalan yang ada."
Ezgi Canpolat
"Cepatnya tindakan iklim tanpa legitimasi sosial bisa berbahaya; inklusi dan kepercayaan adalah kunci keberhasilan solusi iklim."
Nat Manning
"Dampak lingkungan AI harus dibandingkan dengan manfaat bersih yang dapat dihasilkannya jika digunakan dengan baik dan terkelola."
Hendrik Tiesinga
"Permintaan energi AI dapat mendorong skala ekonomi energi terbarukan yang lebih besar dan menurunkan biaya secara cepat."
Analisis Kami
"AI bukanlah penyelamat maupun musuh mutlak bagi perubahan iklim; ia adalah alat yang dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia mengelolanya. Oleh karena itu, kebijakan dan inovasi harus berfokus pada penggunaan AI yang bertanggung jawab dan adil agar dapat memaksimalkan manfaat dan meminimalisir risiko terhadap lingkungan dan masyarakat rentan."
Prediksi Kami
Kedepannya, dampak AI terhadap perubahan iklim akan terus menjadi kekuatan yang berpotensi mempercepat adaptasi dan mitigasi, namun juga berisiko memperdalam ketimpangan dan kerusakan lingkungan jika tidak diatur dengan tepat dan inklusif.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa peran kecerdasan buatan dalam mengatasi perubahan iklim?A
Kecerdasan buatan dapat mengoptimalkan energi terbarukan, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, dan memprediksi risiko terkait perubahan iklim.Q
Apa saja kritik yang dihadapi kecerdasan buatan terkait dampaknya terhadap iklim?A
Kritik mencakup penggunaan energi yang besar dalam pelatihan model AI dan potensi untuk memperburuk ketidaksetaraan global dalam dampak iklim.Q
Bagaimana kecerdasan buatan dapat membantu dalam adaptasi terhadap perubahan iklim?A
AI dapat membantu dalam memprediksi bencana alam, mengoptimalkan penggunaan air dan pupuk, serta merancang strategi adaptasi kota terhadap risiko iklim.Q
Mengapa penting untuk memiliki percakapan yang lebih nuansa mengenai AI dan perubahan iklim?A
Percakapan yang lebih nuansa penting agar tidak mengabaikan dampak negatif AI dan untuk mengidentifikasi peluang positif yang dapat diambil.Q
Apa saja contoh konkret penggunaan AI yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca?A
Contoh termasuk penggunaan AI untuk memantau emisi metana dan efisiensi energi dalam sistem tenaga listrik.


