TLDR
Saham Ferrari mengalami penurunan yang signifikan karena kekhawatiran terkait proyeksi pertumbuhan yang lebih rendah. Strategi manajemen Ferrari menekankan pada eksklusivitas produk dan kontrol terhadap pendapatan dan margin. Peluncuran Elettrica sebagai mobil listrik pertama menjadi momen penting yang dapat mempengaruhi persepsi pasar terhadap Ferrari. Saham Ferrari telah mengalami penurunan tajam selama setahun terakhir, menimbulkan keraguan di kalangan investor soal prospek masa depan perusahaan. Hal ini terjadi setelah manajemen Ferrari gagal meyakinkan para investor dengan proyeksi pertumbuhan yang lebih rendah dari ekspektasi saat pertemuan di markas mereka di Maranello, Italia. Wajar jika para investor khawatir melihat penurunan harga yang belum juga pulih.Bank investasi besar seperti HSBC menurunkan rekomendasi saham Ferrari dari 'beli' menjadi 'tahan' dan memangkas target harga saham dari 415 euro menjadi 345 euro. Mereka menilai pertumbuhan yang diproyeksikan oleh manajemen memang rendah, sekitar 5% untuk pendapatan dan 6% untuk laba per saham hingga 2030, yang tidak sesuai dengan harapan pasar selama ini.Namun di sisi lain, UBS dan Bernstein Research masih optimis terhadap saham Ferrari, dengan UBS memperkirakan harga saham bisa naik hingga $555 dalam 12 bulan ke depan. Bernstein bahkan menilai bahwa perusahaan masih memiliki kemampuan unik untuk mengontrol pendapatan dan margin keuntungan, sehingga potensi kenaikan saham masih terbuka lebar asalkan manajemen bisa membuktikan proyeksi yang dibuat hanyalah angka minimum.Faktor-faktor penting yang akan menentukan arah saham Ferrari termasuk peluncuran Ferrari Elettrica, mobil listrik pertama mereka yang akan hadir di pasaran dengan harga sekitar $580.000, serta hasil laporan keuangan untuk tahun 2025 yang akan diumumkan bulan Februari. Pasar mobil mewah di Amerika Serikat dan kebijakan emisi di Eropa juga akan sangat memengaruhi performa bisnis Ferrari ke depan.Investor saat ini menunggu dengan penuh perhatian hasil tahun 2025 dan prediksi manajemen untuk masa depan. Meski pasar barang mewah biasanya tahan banting di kondisi ekonomi sulit, fakta bahwa saham Ferrari belum juga bangkit menunjukkan ada ketidakpastian besar. Keunggulan merek Ferrari selama ini akan diuji dalam menghadapi persaingan yang bisa datang dari produsen mobil baru, termasuk kemungkinan dari produsen China.