TLDR
FlowPad mengintegrasikan tes hormon FSH ke dalam pembalut menstruasi untuk memudahkan pemantauan kesehatan reproduksi. Vivoo berupaya membuat produk yang terjangkau dan praktis bagi pengguna. Produk ini diharapkan dapat membantu individu memahami kondisi kesehatan hormonal mereka dengan lebih baik. Vivoo, sebuah startup teknologi kesehatan, mengembangkan sebuah pembalut menstruasi bernama FlowPad yang dapat melakukan tes hormon follicle-stimulating hormone (FSH) secara mandiri di rumah. Pembalut ini difungsikan tidak hanya untuk menyerap darah menstruasi, tapi juga untuk mengecek kadar hormon penting yang berhubungan dengan kesuburan dan kesehatan reproduksi.FlowPad memiliki dua lapisan khusus, yang pertama menyerap dan menyaring darah menstruasi, sementara lapisan kedua mengandung reagen yang bereaksi dengan hormon FSH untuk mendeteksi kadarnya. Hasil tes dapat dilihat langsung pada jendela khusus di pembalut atau dengan menggunakan aplikasi Vivoo untuk informasi yang lebih lengkap.Pengukuran FSH ini penting karena kadar hormon yang tinggi bisa menjadi tanda masalah seperti penurunan cadangan ovarium, gangguan kesuburan, atau kondisi hormonal seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS). Produk ini dirancang agar dapat dipakai pada hari kedua atau ketiga menstruasi untuk hasil yang optimal.Vivoo menargetkan produk ini memiliki harga terjangkau, yaitu sekitar 4 sampai 5 dolar AS per pembalut, sehingga dapat menjadi solusi hemat untuk pemantauan kesehatan reproduksi. Selain itu, pengguna bisa memakai pembalut ini secara berkelanjutan atau sesekali sesuai kebutuhan dan tujuan mereka.FlowPad diprediksi akan membawa perubahan besar dalam teknologi kesehatan menstruasi, memberikan kemudahan bagi para pengguna untuk memantau kondisi hormonal tanpa perlu ke rumah sakit. Inovasi seperti ini membuka jalan bagi masa depan produk kesehatan yang lebih personal, praktis, dan terjangkau.
Inovasi Vivoo ini sangat bisa mengubah cara wanita memahami kesehatan reproduksi mereka dengan pendekatan yang praktis dan non-invasif. Namun, tantangan terbesar tetap pada akurasi hasil dan penyebaran edukasi yang memadai agar pengguna memahami manfaat dan keterbatasannya.