TLDR
Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan tumbuh pesat dengan nilai mencapai US$ 400 miliar pada tahun 2030. Pengembangan gig economy dan chip sangat penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Pemerintah telah menyiapkan berbagai program untuk mendukung pelaku gig economy dan infrastruktur digital. Ekonomi digital di Indonesia kini menjadi salah satu yang terbesar di kawasan ASEAN, dengan nilai mencapai US$90 miliar atau sekitar Rp1.494 triliun di tahun 2024. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan pertumbuhan ini akan terus berlanjut hingga mencapai target US$400 miliar atau Rp6.640 triliun pada tahun 2030.Pemerintah mendorong pengembangan gig economy sebagai motor utama dalam ekonomi digital. Untuk itu, sudah ada program magang korporasi dan kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp10 triliun yang disiapkan dengan bunga ringan 6% bagi para pelaku gig economy, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta yang dijadikan prototipe.Selain itu, pengembangan teknologi seperti chip dan Internet of Things (IoT) juga menjadi fokus utama pemerintah untuk memperkuat ekosistem dan industri 4.0 di Indonesia. Wilayah seperti Cilegon, Semarang, dan Maluku sudah mulai membangun klaster industri berbasis IoT agar lebih siap menghadapi kebutuhan pasar global.Pentingnya perlindungan hak kekayaan intelektual (paten) dalam ekosistem digital juga disoroti agar Indonesia tidak kehilangan daya saingnya dan tetap mampu menarik investasi di bidang teknologi. Pemerintah juga memperingatkan agar outsourcing tidak dialihkan ke negara lain seperti India, melainkan tetap dilakukan di Indonesia.Dalam pengembangan artificial intelligence (AI), penyimpanan data menjadi aspek krusial karena AI tanpa data yang aman dan lengkap akan menjadi tidak valid atau 'AI bodong'. Indonesia bersama ASEAN sedang mendorong kerangka kerja ekonomi digital untuk menggandakan nilai pasar digital ASEAN hingga US$2 triliun pada 2030.