TLDR
Data center lama tidak dapat dengan mudah diubah untuk mendukung teknologi AI terbaru. Permintaan untuk kapasitas komputasi AI terus meningkat, menyebabkan pembangunan data center baru. Meskipun AI mendominasi, kebutuhan untuk data non-AI tetap penting dan tidak akan hilang. Dalam 15 tahun terakhir, jumlah pusat data di Amerika Serikat dan seluruh dunia meningkat drastis sebagai respons terhadap permintaan komputasi yang semakin besar, terutama dari sektor kecerdasan buatan (AI). Namun, tidak semua pusat data lama dapat di-upgrade untuk memenuhi tuntutan teknologi terbaru, khususnya terkait beban fisik dan kebutuhan energi yang sangat tinggi.Para ahli dari Uptime Institute dan perusahaan konstruksi data center menjelaskan bahwa pusat data lama tidak mampu menahan berat rak khusus AI yang bisa mencapai 5.000 pound, jauh lebih berat dari rak tradisional yang biasa dipasang sebelumnya. Selain itu, perangkat pendingin cair dan kabel berkapasitas tinggi turut memberikan beban tambahan yang tidak bisa diatasi oleh struktur lama.Tantangan lain adalah dimensi fisik rak yang semakin besar, mencapai ketinggian hingga 9 kaki, yang melebihi kemampuan pintu dan elevator di pusat data lama. Hal ini menyebabkan kebutuhan untuk membangun fasilitas baru yang sesuai dengan standar tinggi untuk mendukung beban berat dan volume panas yang dihasilkan perangkat AI.Sebagian perusahaan teknologi besar seperti OpenAI, Microsoft, dan Google telah membangun atau menyewa ruang di pusat data baru yang khusus didesain untuk AI. Di sisi lain, penggunaan pusat data lama tetap penting untuk beban kerja non-AI, yang masih signifikan bagi universitas, rumah sakit, dan berbagai institusi lain.Kesimpulannya, meskipun tren pembangunan pusat data baru semakin deras, pusat data lama masih akan digunakan untuk kebutuhan tradisional yang lebih ringan. Namun untuk AI, solusi terbaik adalah membangun pusat data baru dengan struktur yang mampu menahan beban dan kebutuhan energi tinggi agar operasi AI dapat berjalan maksimal dan aman.