Teknologi Revolusioner di Shandong Hasilkan Air Tawar dan Hidrogen Hijau Murah
Sains
Iklim dan Lingkungan
07 Des 2025
174 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Fasilitas di Shandong menghasilkan air tawar dan hidrogen hijau dengan biaya yang rendah.
Proyek ini mendukung konsep ekonomi sirkular dengan produk sampingan yang berguna.
Inovasi ini berpotensi untuk mengubah sistem air dan energi global.
China telah meluncurkan fasilitas baru di kota Rizhao, provinsi Shandong, yang mampu menghasilkan air tawar dengan biaya sangat rendah hanya 2 yuan per meter kubik. Teknologi ini menggunakan air laut dan limbah panas dari industri terdekat seperti baja dan petrokimia untuk prosesnya.
Fasilitas ini bekerja secara terus-menerus selama lebih dari tiga minggu, menghasilkan hidrogen hijau berkualitas tinggi tanpa perlu melakukan desalinisasi mahal atau mengandalkan air tawar yang sudah terbatas. Ini menjadikannya solusi efisien dan ramah lingkungan.
Setiap tahun, dengan mengolah 800 ton air laut, fasilitas ini menghasilkan 450 meter kubik air ultramurni yang bisa digunakan untuk kebutuhan industri maupun rumah tangga. Selain itu juga diproduksi 192.000 meter kubik standar hidrogen hijau dan 350 ton air garam mineral yang berguna untuk produksi kimia laut.
Biaya produksi yang rendah bahkan lebih murah dibandingkan dengan metode serupa di kota Jinan yang memerlukan biaya 4 yuan per meter kubik. Sebagai perbandingan, biaya air di Beijing untuk pemakaian rumah tangga awal adalah sekitar 5 yuan per meter kubik.
Teknologi ini sudah menunjukkan potensinya untuk mendukung kebutuhan energi serta air yang bersih dan terjangkau. Ini juga merupakan contoh bagus dari prinsip ekonomi sirkular ‘satu masuk, tiga keluar’, yang dapat mempercepat transisi ekonomi berkelanjutan di berbagai daerah industri.
Analisis Ahli
Prof. Zhang Wei (Ahli Energi Terbarukan)
Penggabungan limbah panas dan air laut untuk produksi hidrogen dan air tawar adalah langkah cerdas yang bisa mengoptimalkan sumber energi yang selama ini terbuang.Dr. Li Ming (Spesialis Teknologi Lingkungan)
Pendekatan 'one-in, three-out' tidak hanya efisien tapi juga mengubah paradigma pengelolaan limbah industri menjadi sumber daya yang berguna.

