TLDR
Pertanian regeneratif adalah kunci untuk membangun ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim. Desain lanskap yang tepat dapat mengurangi erosi dan meningkatkan penyimpanan air. Kolaborasi antara petani dan ahli sangat penting untuk menciptakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Hurricane Melissa yang melanda Jamaika pada Oktober 2025 membawa kehancuran luar biasa pada sektor pertanian, menyebabkan erosi tanah, banjir, dan kerugian ekonomi besar. Perubahan iklim memperkuat badai ini, sehingga metode bertani lama tidak lagi bisa mengatasi tantangan baru yang dihadapi.Pertanian regeneratif muncul sebagai solusi penting dengan fokus memperbaiki dan menjaga kesehatan tanah serta mengatur air secara alami. Teknik seperti teras dan saluran swale membantu menahan curah hujan dan mengurangi erosi, sehingga lahan menjadi lebih tahan terhadap badai dan curah hujan ekstrem.BIOSPHERES dan CEO-nya Sébastien Roumegous mengedepankan konsep sederhana dan praktis yang berorientasi pada profil petani lokal, memanfaatkan sumber daya dan praktik tradisional yang sudah ada untuk membangun sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan tanpa bergantung pada teknologi mahal.Pendekatan ini mengajak petani, ahli pertanian, dan institusi pemerintah bekerja bersama-sama melalui pelatihan, dialog, dan penerapan solusi co-designed agar adaptasi pada perubahan iklim bisa berjalan efektif dan terus berkembang sesuai kebutuhan lapangan.Kesederhanaan dalam pengaturan lahan, perbaikan tanah, dan penyesuaian sistem pertanian menjadi kunci utama agar produksi pangan di Jamaika dapat bertahan dan berkembang walaupun menghadapi cuaca ekstrim dan tekanan iklim di masa depan.