Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Peta Bahaya Gempa 2024 Ungkap Sesar Baru dan Risiko Lebih Tinggi di Indonesia

Sains
Iklim dan Lingkungan
CNBCIndonesia CNBCIndonesia
25 Nov 2025
267 dibaca
1 menit
Peta Bahaya Gempa 2024 Ungkap Sesar Baru dan Risiko Lebih Tinggi di Indonesia

Rangkuman 15 Detik

Peta Sumber dan Bahaya Gempa 2024 menunjukkan banyak sesar baru yang teridentifikasi.
Gempa Cianjur 2022 merupakan contoh dampak merusak dari gempa yang sumbernya belum dipetakan.
Peta ini akan menjadi dasar penting untuk revisi SNI dan perencanaan infrastruktur di Indonesia.
Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia terbaru dirilis pada tahun 2024 setelah pembaruan terakhir pada 2017. Peta ini memuat informasi tentang sesar baru yang teridentifikasi dan peningkatan risiko gempa di wilayah tertentu di Indonesia. Beberapa contoh gempa merusak yang belum tercatat dalam peta lama adalah Gempa Cianjur 2022 dengan magnitudo 5,4 yang dampaknya cukup besar. Gempa besar lain juga terjadi di Mamuju-Majene, Teluk Semangko, Laut Flores, dan Pasaman dalam beberapa tahun terakhir. Dalam peta terbaru ini, tercatat ada 14 zona megathrust dan 401 sesar yang menyebar terutama di Sumatra dan Jawa. Penemuan sesar ini menunjukkan bahwa risiko gempa di Indonesia lebih kompleks daripada sebelumnya. Peta ini akan menjadi dasar untuk revisi Standar Nasional Indonesia (SNI) yang digunakan dalam perencanaan bangunan dan infrastruktur. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan bangunan terutama di wilayah padat penduduk dan rawan gempa. Meski sudah ada peta terbaru, masih diperlukan pengembangan lebih lanjut dengan menggabungkan peta gempa maksimum dan peta kerentanan bangunan (fragility) agar risiko gempa bisa diprediksi lebih akurat dan mitigasi dilakukan secara efektif.

Analisis Ahli

Sri Widiyantoro
Perkembangan peta sumber gempa sangat penting untuk pengenalan risiko baru yang sebelumnya tidak terdeteksi, seperti yang terjadi di Cianjur 2022.
Iswandi Imran
Peta 2024 menunjukkan peningkatan bahaya gempa di beberapa wilayah, sehingga perlu pengembangan peta gempa maksimum yang dipadukan dengan peta kerentanan bangunan.