TLDR
Iran menghadapi tantangan lingkungan yang serius akibat perubahan iklim. Sanksi internasional menghambat kemampuan Iran untuk mengatasi masalah perubahan iklim. Konferensi COP30 di Belém menyoroti perlunya tindakan global untuk menangani dampak perubahan iklim. Iran sedang menghadapi berbagai masalah lingkungan yang serius, termasuk kekeringan berkepanjangan, kebakaran hutan besar, dan gelombang panas ekstrem yang membuat suhu di beberapa wilayah bahkan melewati 50 derajat Celsius. Masalah ini diperburuk oleh pengelolaan sumber daya air yang tidak baik dan tata kelola lingkungan yang buruk selama beberapa dekade.Para pejabat Iran mengatakan bahwa negara mereka mengalami pemanasan hampir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata dunia, dengan proyeksi kenaikan suhu sekitar 2,6 derajat Celsius pada tahun 2030. Kondisi ini memperburuk kekeringan dan bencana alam lainnya serta mengancam kehidupan jutaan orang di berbagai provinsi.Pemerintah Iran telah berusaha melakukan beberapa langkah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, seperti perluasan energi terbarukan, namun sanksi dari Amerika Serikat dan Eropa telah membatasi akses mereka ke teknologi modern dan investasi asing yang sangat dibutuhkan agar bisa menjalankan program-program ini secara efektif.Selain itu, keikutsertaan Iran di konferensi iklim PBB sering mengalami kontroversi, mulai dari tuduhan pemborosan anggaran hingga aksi walkout sebagai bentuk protes politik terhadap kehadiran delegasi Israel. Hal ini menunjukkan bagaimana politik dan konflik kawasan turut mempengaruhi kebijakan iklim Iran.Meskipun Iran merupakan salah satu negara dengan emisi karbon terbesar, negara ini belum meratifikasi Perjanjian Paris dan belum menyerahkan rencana resmi pengurangan emisi. Kondisi ini menimbulkan keraguan tentang komitmen Iran untuk berpartisipasi secara aktif dalam upaya global menghadapi perubahan iklim.