Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Kontroversi Suno: AI Musik Menaikkan Valuasi, Tapi Turunkan Nilai Seni Musik

Bisnis
Startup dan Kewirausahaan
startups (5mo ago) startups (5mo ago)
20 Nov 2025
188 dibaca
2 menit
Kontroversi Suno: AI Musik Menaikkan Valuasi, Tapi Turunkan Nilai Seni Musik

Rangkuman 15 Detik

Suno sedang menghadapi tantangan hukum terkait penggunaan materi berhak cipta.
Mikey Shulman percaya bahwa AI dapat meningkatkan partisipasi dalam penciptaan musik.
Musik yang dihasilkan AI dapat mengurangi nilai dan keunikan dari musik yang dibuat oleh manusia.
Suno adalah startup AI yang bisa menghasilkan musik dengan hanya memberikan instruksi teks saja, contohnya meminta genre, instrumen, dan suasana lagu. Teknologinya mengesankan dari segi teknis, tapi banyak musisi merasa musik hasil AI ini kurang terasa jiwa dan proses kreatifnya. Baru-baru ini, Suno mengumumkan pendanaan sebesar 250 juta dolar AS dengan valuasi 2,45 miliar dolar AS, meski perusahaan ini sedang disomasi oleh RIAA dan label musik besar karena diduga melanggar hak cipta dengan memanfaatkan lagu-lagu berlisensi untuk melatih AI-nya. Co-founder Suno, Mikey Shulman, mengatakan bahwa masa depan musik adalah dimana lebih banyak orang berperan aktif membuat musik dengan alat-alat yang interaktif dan mudah digunakan. Namun, banyak kritikus dan musisi menganggap proses yang dilakukan lewat AI ini jauh dari 'aktif' karena hanya menekan tombol dan menerima hasil AI tanpa usaha nyata. Suno juga meluncurkan perangkat lunak Studio yang lebih mirip DAW tradisional dengan kemampuan editing lebih dalam. Namun, harga langganannya cukup mahal dan tetap menonjolkan musik generatif AI sebagai fitur utama, sehingga tidak sepenuhnya setara dengan DAW profesional yang juga tersedia dengan harga lebih murah. Banyak pihak menilai bahwa produksi musik yang menggunakan AI tanpa effort dan keahlian justru menurunkan nilai seni dan musik rekaman. Platform streaming seperti Spotify mulai membatasi visibilitas musik AI karena dipandang kurang bernilai dan berpotensi merusak industri musik serta apresiasi terhadap karya musisi asli.

Analisis Ahli

Nick Canovas
AI yang memungkinkan siapa saja menghasilkan musik dalam hitungan detik merusak nilai eksklusif dan keistimewaan rekaman musik.
Mikey Shulman
Menyatakan masa depan musik adalah lebih banyak orang yang aktif melakukan musik lewat alat interaktif berbasis AI.