TLDR
Kesehatan tanah adalah faktor penting dalam mitigasi perubahan iklim dan harus diintegrasikan dalam strategi nasional. Degradasi tanah dapat memiliki konsekuensi ekonomi yang besar dan mempengaruhi keamanan pangan secara global. Inisiatif seperti RAIZ dapat membantu memulihkan lahan terdegradasi dan meningkatkan ketahanan sistem pangan. COP30 di Belém memperlihatkan ketegangan besar terkait pentingnya tanah dalam mitigasi perubahan iklim. Meskipun implementasi dan pendanaan menjadi fokus utama, diskusi tanah dan sistem pangan muncul sebagai masalah mendasar yang harus segera diatasi. Tanah ternyata menyimpan karbon jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan sebelumnya dan dapat menjadi salah satu alat paling efektif dalam pengurangan emisi.Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sekitar 40% lahan di dunia mengalami degradasi dan bisa meningkat hingga 90% pada tahun 2050, yang bisa melepaskan emisi besar setara dengan Amerika Serikat tiap tahunnya. Namun, hanya 30% negara yang saat ini telah memasukkan pemulihan tanah dalam strategi iklim nasional mereka, meninggalkan risiko besar bagi produksi pangan dan stabilitas ekonomi.Tekanan dari industri agribisnis dan bahan bakar fosil memperumit negosiasi, karena ada ketakutan terhadap regulasi baru yang dapat membatasi praktik yang merusak tanah. Sementara itu, belum ada kerangka hukum dan tata kelola global yang mengatur kesehatan tanah sebagaimana sudah ada untuk atmosfer dan laut, membuat upaya perlindungan tanah menjadi sangat terfragmentasi.Inisiatif baru seperti RAIZ, yang diluncurkan di COP30, bertujuan untuk mendorong investasi besar dalam pemulihan lahan pertanian yang terdegradasi. Saksinya adalah bahwa pemulihan 10% dari tanah ladang yang rusak bisa menopang produksi pangan untuk 154 juta orang, namun ada gap pendanaan sebesar 105 miliar dolar AS yang harus diatasi agar tindakan bisa dilakukan secara masif.Di masa depan, tanah diprediksi akan menjadi bagian utama dalam kebijakan iklim dan kebijakan keuangan, termasuk regulasi, pelaporan, dan pasar karbon. Investor dan pembuat kebijakan diharapkan lebih aktif memperhatikan kondisi tanah karena dampaknya terhadap produksi pangan, risiko iklim, nilai aset, dan stabilitas ekonomi secara global tetap sangat besar.