AI summary
COP30 harus berfokus pada implementasi NDC yang lebih baik. Negara maju perlu memberikan dukungan yang lebih besar kepada negara berkembang. Penting untuk membangun sistem yang berpusat pada manusia dalam tindakan iklim. COP atau Konferensi Perubahan Iklim PBB adalah ajang terbesar bagi hampir 200 negara untuk bertemu, berdiskusi, dan bernegosiasi tentang upaya global menangani krisis iklim. Meski acara ini penuh dengan energi dan antusiasme, sering muncul pertanyaan tentang apakah hasilnya benar-benar konkret atau hanya pernyataan janji tanpa tindak lanjut nyata.Pada COP30 yang berlangsung di Belem, Brasil, berbagai negara dan pemegang kepentingan memperlihatkan komitmen mereka. Namun, permasalahan utama masih terlihat, seperti kegagalan banyak negara mengajukan target iklim terbaru tepat waktu dan kurangnya pendanaan nyata terutama untuk negara berkembang yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.Salah satu masalah besar adalah kesenjangan antara target-target besar yang diumumkan dan dana riil yang tersedia untuk menjalankan program adaptasi dan mitigasi. Misalnya, pendanaan untuk adaptasi dari negara maju ke negara berkembang hanya sekitar 26 miliar USD, jauh dari kebutuhan sekitar 310 miliar USD setiap tahunnya.COP juga harus mengedepankan keadilan sosial dengan menempatkan masyarakat rentan seperti komunitas adat di Amazon dan perempuan sebagai pusat kebijakan iklim. Data menunjukkan perempuan dan anak-anak lebih terdampak oleh bencana iklim, sehingga perlindungan mereka menjadi kunci keberhasilan aksi iklim yang berkelanjutan.Tata kelola global yang lemah saat ini menyulitkan pencapaian tujuan iklim. Oleh karena itu, dibutuhkan reformasi besar dalam sistem COP dan pembentukan badan baru seperti Dewan Perubahan Iklim PBB yang mampu mengawasi pelaksanaan janji, mengaudit progres, dan melibatkan sektor swasta serta masyarakat sipil agar janji menjadi aksi nyata.
COP harus berhenti sekedar menjadi ajang pernyataan niat dan mulai fokus pada mekanisme tindak lanjut dan akuntabilitas yang ketat agar negara-negara benar-benar bergerak dari kata menuju perbuatan. Tanpa reformasi tata kelola dan dukungan finansial yang memadai, peluang untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celcius akan semakin menipis.