Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Pendanaan Adaptasi Iklim Merosot: Dunia Hadapi Risiko Ekonomi Sistemik

Sains
Iklim dan Lingkungan
News Publisher
14 Nov 2025
239 dibaca
2 menit
Pendanaan Adaptasi Iklim Merosot: Dunia Hadapi Risiko Ekonomi Sistemik

AI summary

Pendanaan adaptasi untuk negara berkembang mengalami penurunan yang signifikan.
Kerugian akibat perubahan iklim berpotensi mengancam stabilitas ekonomi global.
Reformasi struktural dalam sistem keuangan diperlukan untuk mendukung investasi dalam ketahanan iklim.
Pendanaan untuk adaptasi perubahan iklim di negara berkembang sangat tidak mencukupi, meskipun kebutuhan finansialnya mencapai ratusan miliar dolar per tahun. Data terbaru dari UNEP menunjukkan adanya penurunan aliran dana internasional dari $28 miliar pada 2022 menjadi $26 miliar pada 2023. Sementara itu, bencana iklim semakin parah dan saling terkait, memperburuk risiko ekonomi dan sosial.Para ahli kini melihat dampak perubahan iklim sebagai risiko sistemik yang mirip dengan krisis finansial global. Guncangan iklim yang berlapis seperti gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, dan badai bisa menimbulkan dampak menyeluruh pada perekonomian global. Ini menuntut perubahan paradigma dalam pendanaan dan manajemen risiko iklim.Sistem keuangan global sekarang masih seperti 'pipa' dari abad ke-20, yang tidak mampu mendukung investasi ketahanan iklim secara optimal. Negara yang berinvestasi di ketahanan justru bisa dikenai biaya pinjaman lebih mahal. Oleh karena itu, reformasi seperti pengakuan investasi ketahanan sebagai pengurang risiko di bank, dan fasilitas jaminan bersama sangat penting agar pendanaan bisa melebar tanpa menambah utang berlebihan.Dana Iklim Hijau berperan penting dalam mengisi kekosongan pendanaan dengan mengelola portofolio $19 miliar dan menyalurkan $2,2 miliar di 2024, namun ini masih jauh dari skala kebutuhan. Sektor swasta juga berpotensi meningkatkan kontribusi sampai $50 miliar per tahun jika hambatan struktural dapat diatasi, termasuk risiko yang tidak tercermin dalam perhitungan keuntungan proyek.Tanpa adanya mekanisme finansial jangka panjang yang jelas pasca-2025, negara-negara berkembang akan kesulitan menstabilkan pendanaan adaptasi. Penundaan tindakan hanya akan memperbesar risiko ekonomi makro dan mendorong pada biaya kerugian yang jauh lebih tinggi di masa depan. Maka, dibutuhkan push global dari segala sisi untuk mengisi 'tangki' pendanaan adaptasi secara massif dan sistemik.

Experts Analysis

Delton Chen
Mendeskripsikan kerusakan iklim sebagai eksternalitas sistemik yang menyerupai kontaminasi finansial lintas negara, menuntut pendekatan yang lebih holistik dalam manajemen risiko.
Nicola Ranger
Menekankan ekosistem alami sebagai infrastruktur makro-kritis yang jika rusak dapat memicu guncangan ekonomi global lebih besar dari krisis finansial 2008.
Natalie Unterstell
Menganggap masalah utama adalah struktur keuangan usang yang membuat negara pengadopsi ketahanan iklim malah dikenai biaya pinjaman lebih tinggi dan ketat.
Henry Gonzalez
Menegaskan peran penting Dana Iklim Hijau dalam mengambil risiko pendanaan adaptasi yang enggan diambil sektor swasta, tapi jumlahnya masih jauh dari yang dibutuhkan.
Editorial Note
Sistem keuangan global yang ketinggalan zaman membuat risiko iklim berubah menjadi bencana ekonomi makro yang sistemik, bukan sekedar masalah lingkungan atau kemanusiaan. Tanpa tindakan terintegrasi dan reformasi kapital yang serius, dunia akan menghadapi gelombang krisis keuangan baru yang semakin sulit dikendalikan.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.