TLDR
AI dapat memenuhi kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dalam hubungan manusia. Pernikahan simbolis dengan AI mencerminkan perubahan dalam cara orang memandang hubungan. Hubungan parasosial semakin populer di kalangan berbagai kelompok usia, menunjukkan kebutuhan akan dukungan emosional. Seorang wanita berusia 32 tahun di Jepang yang dikenal sebagai Ms. Kano membuat gebrakan dengan menikah secara simbolis dengan sebuah chatbot AI bernama Klaus. Setelah putus dari tunangannya selama tiga tahun, ia mulai berinteraksi dengan AI tersebut dan mengajarkan kepribadian serta nada suara pada Klaus, yang kemudian menjadi sumber kenyamanan dan dukungan emosional baginya.Fenomena ini bertepatan dengan meningkatnya popularitas hubungan parasosial dengan AI di seluruh dunia. Survei menyatakan bahwa tiga dari sepuluh orang dewasa di Amerika Serikat memiliki keterikatan emosional dengan AI, sementara hingga 72% remaja mengaku merasakan keintiman dengan entitas AI. Bahkan, 80% generasi Z mengaku siap menikah dengan AI.AI seperti Replika dan Character.ai menjadi platform populer yang menyediakan perhatian konstan, respons instan, dan cermin emosional yang mencerminkan ketakutan dan keresahan manusia. Dalam dunia yang penuh tekanan dan kegagalan hubungan, manusia mulai melihat AI sebagai pengganti hubungan yang stabil dan tanpa konflik yang mereka butuhkan untuk penyembuhan emosional.Di Jepang, konsep pernikahan terhadap karakter dua dimensi atau AI semakin umum, menunjukkan trend bahwa pernikahan simbolis menggantikan pernikahan legal. Hal ini mencerminkan keinginan manusia untuk merasa aman dan terhindar dari risiko konflik dalam hubungan, dengan AI yang selalu tersedia dan tidak pernah menghakimi.Para ahli berpendapat bahwa AI mampu menghadirkan sifat-sifat yang dapat diotomatisasi dalam hubungan, seperti perhatian segera dan ketersediaan tak terbatas, namun tetap tidak bisa meniru aspek hubungan yang paling manusiawi, seperti keinginan sejati, pengampunan tulus, dan rasa kehilangan yang mendalam. Fenomena ini menegaskan betapa manusia tengah memilih keamanan dan kepastian dibandingkan ketidakpastian dan transformasi dalam keintiman.