Komet C/2025 K1 (ATLAS) Hancur dan Berubah Warna Setelah Dekati Matahari
Sains
Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa
14 Nov 2025
260 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Komet C/2025 K1 telah mengalami fragmentasi setelah melewati perihelion.
Perubahan warna komet dapat memberikan petunjuk tentang komposisi kimianya.
Komet tersebut dapat diamati di konstelasi Leo dengan teleskop atau teropong.
Komet C/2025 K1 (ATLAS) ditemukan oleh jaringan teleskop ATLAS pada Mei dan melewati titik perihelionnya pada 8 Oktober, yaitu posisi terdekat dengan Matahari. Awalnya, para astronom mengira komet ini berhasil bertahan dengan jarak sekitar 31 juta0.00 km (mil) dari Matahari.
Namun, pengamatan terbaru menunjukkan bahwa komet tersebut tidak dapat bertahan dari tarikan gravitasi yang kuat saat melewati Matahari, sehingga terpecah menjadi beberapa fragmen atau awan puing-puing yang mengapit inti utama.
Pada saat perihelion, komet juga mengalami perubahan warna dari hijau yang biasa terlihat pada komet dekat Matahari menjadi warna emas yang mencolok. Perubahan ini kemungkinan disebabkan oleh berkurangnya molekul karbon di sekitar coma komet.
Pengamat bisa mencari fragmen komet ini di rasi bintang Leo dengan alat bantu seperti teleskop atau binocular. Komet ini memiliki magnitudo sekitar 9.9, yang berarti terlalu redup untuk dilihat dengan mata telanjang.
Diperkirakan pecahan komet ini akan melintas terdekat Bumi pada 25 November dengan jarak sekitar 37 juta mil, memberikan kesempatan langka untuk mempelajari sisa-sisa komet yang hancur ini.
Analisis Ahli
Gianluca Masi
Fragmentasi ini adalah contoh sempurna bagaimana perihelion bisa menjadi momen kritis bagi komet, dan warna emas yang muncul adalah indikasi adanya perubahan kimia yang patut kita pelajari lebih lanjut.

