Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Latex Amazon: Solusi Fashion Berkelanjutan dan Perlindungan Hutan Hujan

Sains
Iklim dan Lingkungan
climate-and-environment (5mo ago) climate-and-environment (5mo ago)
13 Nov 2025
293 dibaca
2 menit
Latex Amazon: Solusi Fashion Berkelanjutan dan Perlindungan Hutan Hujan

Rangkuman 15 Detik

Karet dari hutan Amazon dapat menjadi alternatif berkelanjutan untuk kulit dalam industri mode.
Merek fashion semakin beralih ke karet untuk mendukung komunitas lokal dan melestarikan lingkungan.
Penting untuk mengingat sejarah kelam dalam perdagangan karet dan mendukung praktik yang adil dan berkelanjutan.
Konferensi COP30 yang berlangsung di Belém, Brasil, membawa fokus kembali pada hutan hujan Amazon dan ancamannya dari aktivitas komersial. Amazon dikenal sebagai paru-paru dunia dan hutan hujan terbesar yang punya peran penting dalam mengatur iklim secara lokal, regional, dan global. Sayangnya, sektor fashion seringkali menggunakan kulit yang memicu deforestasi dengan membuka lahan untuk peternakan di wilayah ini. Alternatif yang ramah lingkungan dan sosial adalah menggunakan latex yang diekstrak dari pohon shiringa yang tumbuh asli hanya di Amazon. Latex diperoleh tanpa membunuh pohon, sehingga merupakan bahan yang terbarukan dan mudah terurai secara hayati. Meskipun masih ada stigma bahwa karet hanya digunakan untuk barang fetish, kini banyak brand fashion sadar lingkungan mencoba memakai latex sebagai pengganti bahan kulit dan plastik berbasis bahan bakar fosil. Salah satu contoh adalah brand sepatu Veja yang mengolah latex untuk sol sepatu mereka dengan volume pembelian yang sangat meningkat dan sudah mendapatkan sertifikat Fair For Life. Sertifikat ini menjamin kesejahteraan para pemulung karet dan mendorong keberlanjutan ekonomi komunitas adat agar tanah mereka terlindungi dari tekanan komersil lain. Bahkan, banyak brand dan desainer dari Amazon menggunakannya sebagai bahan sekaligus pesan politik untuk menjaga hutan dan merayakan budaya pribumi. Namun, sejarah latex di Amazon bukan tanpa kontroversi. Pada masa kejayaan karet abad ke-19, eksploitasi besar-besaran dilakukan terhadap masyarakat adat yang dipaksa memanen latex secara buruk. Karet juga diselundupkan ke koloni Inggris lain sehingga produksi besar terjadi di Asia, menurunkan harga dan mengakhiri booming karet di Amazon. Kerusakan sosial dan lingkungan akibat masa lalu ini menjadi pengingat penting dalam penggunaan latex saat ini. Dengan tren fashion yang semakin sadar lingkungan, potensi latex sebagai bahan berkelanjutan tinggi. Kerjasama antara perusahaan fashion dan komunitas adat menjadi kunci agar sumber daya ini bisa dipanen tanpa merusak lingkungan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Upaya ini diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana ekonomi dan konservasi bisa berjalan beriringan demi masa depan hutan Amazon dan dunia.

Analisis Ahli

Dr. Mariana Silva (Ilmuwan Lingkungan)
Penggunaan bahan alami seperti latex yang diperoleh secara berkelanjutan dapat menjadi solusi efektif untuk mengurangi tekanan terhadap hutan hujan Amazon dan membantu mitigasi perubahan iklim.
Pedro Andrade (Aktivis Hak Masyarakat Adat)
Memastikan komunitas adat menerima manfaat ekonomi dari pemanfaatan latex adalah kunci untuk perlindungan jangka panjang hutan Amazon dan budaya mereka.