Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Perlombaan Pusat Data Raksasa di Asia Dorong Revolusi AI dan Tantangan Energi

Teknologi
Kecerdasan Buatan
artificial-intelligence (4mo ago) artificial-intelligence (4mo ago)
10 Nov 2025
168 dibaca
2 menit
Perlombaan Pusat Data Raksasa di Asia Dorong Revolusi AI dan Tantangan Energi

Rangkuman 15 Detik

Permintaan untuk pusat data meningkat seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan.
Perusahaan-perusahaan besar berinvestasi miliaran dolar untuk membangun infrastruktur data center di seluruh Asia.
Kekhawatiran mengenai pasokan energi dan air menjadi tantangan dalam mempercepat pembangunan pusat data.
Kebutuhan besar akan kapasitas komputasi untuk mendukung kecerdasan buatan (AI) telah memicu perlombaan pembangunan pusat data skala besar di Asia, khususnya di kawasan Asia-Pasifik. Perusahaan-perusahaan besar dan taipan lokal di berbagai negara berlomba-lomba berinvestasi miliaran dolar untuk membangun infrastruktur data center demi memenuhi lonjakan permintaan akan layanan AI. Di Malaysia, YTL Power International bekerja sama dengan Nvidia membangun kawasan pusat data besar di Johor, dengan investasi mencapai Rp 71.81 triliun (US$4,3 miliar) . Sementara di India, taipan seperti Gautam Adani dan Mukesh Ambani juga menyiapkan proyek pusat data bernilai puluhan miliar dolar. Negara-negara lain seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand juga aktif mengembangkan fasilitas data besar. Indonesia ikut meramaikan perlombaan ini dengan DCI Indonesia yang kini menjadi salah satu operator pusat data terbesar di Asia Tenggara. DCI berencana memperbesar kapasitas dari 119MW menjadi 1,9GW, termasuk pembangunan fasilitas hyperscale baru di Pulau Bintan. Selain DCI, konglomerat besar seperti Sinar Mas Group dan Triputra Group juga ikut memasuki bisnis pusat data. Meskipun pembangunan data center menjanjikan peluang besar untuk pertumbuhan ekonomi digital, ada kekhawatiran serius mengenai pasokan energi dan air. Beberapa pengembang sudah mulai berinvestasi di energi surya dan menjajaki konsep pusat data terapung, namun laporan PwC memperkirakan bahwa energi hijau hanya akan mampu memenuhi kurang dari sepertiga tambahan kebutuhan energi pada 2030. Analis dan para ahli menyatakan bahwa meskipun ada kekhawatiran potensi gelembung investasi, lonjakan pemakaian AI di sektor penting seperti kesehatan dan pertahanan membuat perkembangan pusat data tetap sangat vital dan tidak dapat dihindari.

Analisis Ahli

Jitesh Karlekar
Dengan lompatan besar penggunaan AI di sektor-sektor krusial seperti kesehatan, pendidikan, dan pertahanan, ekspansi pusat data masih sangat dibutuhkan meski ada kekhawatiran investasi berlebihan.