AI summary
Malaysia sedang berupaya menjadi pusat data dunia meskipun menghadapi tantangan dari tekanan geopolitik. Telkom Indonesia berusaha meningkatkan kontribusi dari bisnis data center untuk diversifikasi pendapatan. Peraturan baru terkait chip AI menunjukkan dampak dari perang dagang antara AS dan China terhadap negara-negara di sekitar. Malaysia disebut sebagai salah satu pusat data dunia yang sedang naik daun, dengan banyak investasi dari perusahaan teknologi besar dunia. Namun, negara ini mulai menghadapi tekanan dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang berdampak pada industri chip AI dan pusat data mereka.Amerika Serikat menekan Malaysia untuk melarang China menggunakan wilayahnya sebagai pintu belakang dalam mengakses chip AI buatan AS. Ini memaksa Malaysia membuat aturan ketat terkait izin ekspor, pengiriman ulang, dan transit chip berkinerja tinggi yang dibuat oleh perusahaan seperti Nvidia.Johor, Malaysia, menjadi lokasi utama pusat data dengan kapasitas besar dan investasi mencapai 164,45 miliar ringgit atau sekitar 640 triliun rupiah. Banyak perusahaan teknologi global dan China berinvestasi di sana karena fasilitas yang menarik seperti listrik murah dan harga tanah yang kompetitif.Sementara itu, PT Telkom Indonesia ingin meningkatkan kontribusi bisnis data center agar pendapatan dari sektor ini naik menjadi 10 persen, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada Telkomsel yang menyumbang 70 persen dari total pendapatan grup Telkom.Telkom kini memiliki 35 pusat data di dalam dan luar negeri dengan pertumbuhan pendapatan bisnis data center mencapai 30 persen per tahun. Hal ini menunjukkan peluang besar di sektor data center di kawasan Asia Tenggara, terutama jika Malaysia menghadapi kendala geopolitik serius.
Malaysia sedang berada di persimpangan sulit antara mempertahankan hubungan dagang besar dengan China dan memenuhi tuntutan Amerika Serikat yang semakin ketat di sektor teknologi tinggi. Ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat kapabilitas pusat datanya dan menarik lebih banyak investasi, khususnya dari perusahaan global yang mencari alternatif di kawasan Asia Tenggara.