Investor Besar Tolak Paket Kompensasi Rp 16.000 Triliun untuk Elon Musk
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
05 Nov 2025
75 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
NBIM menolak paket kompensasi Elon Musk karena dianggap terlalu besar dan berisiko.
Paket kompensasi hanya akan dibayarkan jika Tesla mencapai target kapitalisasi pasar yang sangat tinggi.
Investor Eropa lebih cenderung mengikuti pandangan NBIM karena fokus pada prinsip ESG.
Salah satu investor terbesar Tesla, Norges Bank Investment Management (NBIM), menolak paket kompensasi besar untuk CEO Elon Musk yang bisa mencapai Rp 16.70 quadriliun (US$1 triliun) atau sekitar Rp 16.000 triliun selama 10 tahun. Penolakan ini terjadi karena nilai paket dianggap terlalu tinggi dan berpotensi merugikan pemegang saham lain.
Meski begitu, paket ini masih berpeluang disetujui karena dukungan luas dari investor besar lainnya dan pemegang saham ritel. Di Texas, aturan memungkinkan Musk menggunakan saham yang ia miliki untuk memberikan suara, sehingga ia memiliki pengaruh hak suara yang besar di perusahaan.
NBIM juga menolak pemilihan ulang dua anggota dewan Tesla dan menegaskan kekhawatiran soal potensi dilusi saham dan risiko bergantung pada satu tokoh utama. Ketua Dewan Tesla memperingatkan bahwa Musk bisa meninggalkan perusahaan jika paket tersebut ditolak.
Investor besar lain masih menunjukkan dukungan terhadap paket tersebut, sementara penasihat proxy seperti ISS dan Glass Lewis menyarankan pemegang saham untuk menolak karena risiko yang dianggap terlalu tinggi. Paket kompensasi hanya akan diberikan jika Tesla berhasil mencapai target kapitalisasi pasar sebesar Rp 141.95 quadriliun (US$8,5 triliun) .
Penolakan ini menyoroti peran penting investor Eropa yang mengacu pada prinsip ESG dalam keputusan investasi mereka, yang berfokus pada aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik. Sikap ini dapat memengaruhi hasil pemungutan suara penting Tesla yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.
Analisis Ahli
Francis Byrd
Investor Eropa yang memegang prinsip ESG cenderung mengikuti sikap NBIM karena memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik dalam berinvestasi.
