Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Elon Musk Ngamuk Tolak Penolakan Paket Kompensasi US$ 1 Triliun Tesla

Finansial
Investasi dan Pasar Modal
investment-and-capital-markets (5mo ago) investment-and-capital-markets (5mo ago)
23 Okt 2025
155 dibaca
2 menit
Elon Musk Ngamuk Tolak Penolakan Paket Kompensasi US$ 1 Triliun Tesla

Rangkuman 15 Detik

Elon Musk mengkritik investor yang menentang paket kompensasi besar untuknya.
Tesla mengalami peningkatan pendapatan meskipun laba bersih mengalami penurunan.
Paket kompensasi Musk berpotensi menjadikannya sebagai triliuner pertama di dunia jika target tercapai.
Tesla melaporkan hasil keuangan kuartal ketiga tahun 2025 dengan pendapatan sebesar 28,1 miliar dolar AS, naik 12 persen dari periode sebelumnya. Namun, laba bersih perusahaan turun drastis 37 persen menjadi 1,37 miliar dolar AS. Kenaikan pendapatan dipicu oleh konsumen yang membeli mobil Tesla sebelum kredit pajak untuk kendaraan listrik berakhir. Dalam sesi tanya jawab dengan investor setelah laporan, CEO Tesla Elon Musk tiba-tiba marah dan mengkritik keras ISS dan Glass Lewis. Dua lembaga ini menolak paket kompensasi yang diusulkan senilai 1 triliun dolar AS untuk Musk, yang dirancang agar Musk tetap memegang kendali di perusahaan. Paket kompensasi tersebut sangat besar dan terdiri dari 12 tahap yang bergantung pada pencapaian target-target ambisius selama sepuluh tahun ke depan. Targetnya mencakup produksi 20 juta kendaraan, valuasi pasar Tesla sebesar 2 triliun dolar AS, dan pengembangan robot taxi serta robot AI secara komersial. Musk mengatakan bahwa paket kompensasi ini diperlukan agar dirinya terus memiliki suara pengendali dalam rapat pemegang saham tanpa harus menggunakan struktur saham ganda seperti perusahaan lain. Ia juga menuduh ISS dan Glass Lewis sebagai 'teroris korporat' yang tidak memahami kebutuhan perusahaan dan memiliki kepentingan lain. Rencana paket kompensasi akan diajukan dalam rapat tahunan pemegang saham pada November 2025. Jika disetujui dan target tercapai, Musk berpotensi menjadi triliuner pertama di dunia dengan kekayaan tambahan sebesar hampir 1 triliun dolar AS.

Analisis Ahli

Analyst Keuangan Terkenal
Paket kompensasi ini berpotensi menjadi preseden kontroversial di dunia korporasi karena nilainya yang fantastis dan ketergantungan pada target yang sangat ambisius. Penolakan dari lembaga pemungut suara wajib dicermati sebagai indikasi bahwa tidak semua investor percaya pada keberlanjutan pertumbuhan perusahaan.