Ilmuwan China Makin Memimpin Proyek Sains Global Meski Hadapi Hambatan Teknologi
Teknologi
Kecerdasan Buatan
05 Nov 2025
81 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Ilmuwan China semakin mengambil peran kepemimpinan dalam proyek penelitian internasional, terutama dengan Inggris dan Eropa.
China masih menghadapi tantangan dalam teknologi kritis dan perlu meningkatkan kemampuan dalam penelitian dasar yang disruptif.
Kolaborasi internasional antara AS dan China dapat memberikan manfaat besar, terutama dalam teknologi canggih seperti AI dan semikonduktor.
Para ilmuwan China semakin banyak memimpin proyek penelitian bersama dengan negara-negara lain, khususnya Inggris dan Eropa. Data terbaru menunjukkan bahwa mereka sudah memimpin lebih dari setengah proyek dengan Inggris, dan kemungkinan akan menyamai kepemimpinan dalam proyek bersama Eropa dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun mendatang. Ini menandai peningkatan peran China dalam riset internasional yang sangat pesat.
Penelitian menunjukkan bahwa walaupun kepemimpinan ilmuwan China semakin meningkat, mereka masih sering ditempatkan dalam posisi pendukung dalam kolaborasi dengan Amerika Serikat. Hambatan teknologi dan kebijakan seperti larangan penjualan chip AI dari AS ke China sejak 2022 memperlambat kemajuan China dalam bidang teknologi kunci semikonduktor dan kecerdasan buatan.
Dalam analisis mendalam, para peneliti menggolongkan pemimpin proyek berdasarkan kontribusi desain, konsep, dan bimbingan proyek. Mereka memprediksi bahwa dalam 5-7 tahun ke depan, ilmuwan China akan seimbang dalam kepemimpinan proyek sains global, termasuk dengan AS. Namun, kepemimpinan China di bidang teknologi penting seperti AI dan semikonduktor baru akan sejajar dengan AS sekitar tahun 2030.
Hongjun Xiang dari Universitas Fudan menekankan bahwa China masih perlu memperkuat riset dasar yang benar-benar inovatif untuk mencapai terobosan besar seperti yang diakui oleh Nobel. Pengembangan teknologi inti juga terhambat oleh ketergantungan panjang pada teknologi AS yang telah bertahun-tahun dikembangkan lewat riset mendalam di sana.
Peneliti lain, James Evans, menyatakan bahwa kebijakan pembatasan kolaborasi dengan China oleh beberapa pihak di AS sebenarnya tidak menguntungkan dan malah bisa merugikan kemajuan teknologi AS sendiri. Kolaborasi dalam bidang penting seperti AI dan ruang angkasa masih lebih efektif dibandingkan jika dijalankan secara terpisah antara kedua negara.
Analisis Ahli
Hongjun Xiang
China perlu memperkuat kemampuan kepemimpinan dalam riset dasar yang disruptif karena terobosan orisinal tingkat Nobel masih jarang.James Evans
Menghentikan kolaborasi AS-China dalam teknologi kritis justru akan merugikan AS karena kerja sama lebih sukses daripada melakukan riset secara terpisah.
