Tether Klaim Margin Untung 99% dan Targetkan Profit Rp 250.50 triliun ($15 Miliar) Tahun Ini
Finansial
Mata Uang Kripto
25 Okt 2025
237 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Tether mengklaim memiliki margin laba yang sangat tinggi dan merencanakan laba yang signifikan untuk tahun ini.
Perusahaan beroperasi dalam lingkungan regulasi yang tidak jelas, sehingga menimbulkan keraguan tentang kesehatan keuangannya.
Tether berencana untuk meluncurkan stablecoin baru yang mematuhi regulasi di AS dan berinvestasi di platform video untuk meningkatkan adopsi.
Tether, perusahaan yang menerbitkan stablecoin terbesar dunia, USDT, mengklaim memiliki margin keuntungan sebesar 99%. Paolo Ardoino, CEO Tether, memperkirakan laba perusahaan bisa mencapai 15 miliar dolar AS tahun ini, yang jauh melampaui laba perusahaan besar seperti Tesla dan Apple.
Namun, Tether beroperasi di zona abu-abu regulasi karena berkantor pusat di El Salvador, sehingga tidak tunduk pada standar audit atau persyaratan pengungkapan yang berlaku di Amerika Serikat. Perusahaan hanya mengeluarkan 'attestations' bukan audit penuh yang biasanya dilakukan perusahaan publik.
Pada tahun 2021, Tether sempat mendapat denda dari Commodity Futures Trading Commission karena salah melaporkan cadangan stablecoinnya. Meskipun demikian, perusahaan tetap tumbuh signifikan dengan suplai USDT yang mencapai 182 miliar dolar AS.
Tether juga tengah menyiapkan peluncuran stablecoin baru bernama USAT, yang akan berjalan di bawah regulasi Amerika Serikat. Token ini akan diterbitkan oleh Tether America, hasil usaha patungan dengan bank kripto yang teregulasi, Anchorage Digital, dan akan mematuhi peraturan GENIUS Act.
Untuk memperluas penggunaan USAT, Tether berinvestasi sebesar 775 juta dolar AS di platform video Rumble yang memiliki 51 juta pengguna di AS. Selain itu, mereka juga mempersiapkan peluncuran dompet kripto sendiri untuk mendukung adopsi token baru ini.
Analisis Ahli
Andreas Antonopoulos
Tether’s opaque auditing practices have always raised red flags in the crypto community, and these profit claims seem too good to be true without proper transparency.Caitlin Long
Operating from a regulatory gray zone poses significant risks. For Tether to survive and grow in the US market, it must improve compliance and transparency to gain investor and regulatory trust.