Menggunakan Otak Mini Hidup untuk Komputer Masa Depan yang Hemat Energi
Teknologi
Kecerdasan Buatan
21 Okt 2025
123 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Biokomputasi memiliki potensi besar untuk menggantikan silikon dan mengurangi penggunaan energi.
Penelitian ini dapat memberikan wawasan tentang fungsi otak manusia dan membantu dalam penelitian neurologis.
Etika dalam menciptakan dan memanipulasi sel otak hidup harus tetap diperhatikan agar tetap dalam batasan moral.
Para ilmuwan kini sedang mengembangkan komputer dengan menggunakan klaster kecil sel otak manusia yang hidup, yang disebut organoid. Organ ini dibuat dari sel kulit manusia yang diubah menjadi sel punca dan kemudian menjadi neuron. Ukuran organoid ini hanya sebesar otak lalat buah dengan kira-kira 10.000 neuron.
Organoid dihubungkan ke elektroda yang mengirim dan menerima sinyal listrik. Ketika organoid mendapat rangsangan, neuron-neuronnya merespons dengan aktivitas yang dapat diukur mirip dengan angka 1 dan 0 dalam komputer digital. Ini memungkinkan organoid menjalankan tugas komputasi sederhana.
Para peneliti juga menggunakan dopamin, zat kimia di otak yang memberikan hadiah atau motivasi, untuk melatih organoid agar belajar dan memperbaiki responsnya. Ini mirip dengan cara otak manusia belajar dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun sangat menjanjikan, organoid hanya bisa bertahan hidup selama beberapa bulan dan belum memiliki pembuluh darah seperti otak asli, sehingga menjaga kehidupan mereka menjadi tantangan besar. Sekali organoid mati, mereka tidak bisa dihidupkan kembali.
Teknologi ini belum akan menggantikan komputer silikon dalam waktu dekat, tapi bisa menjadi pelengkap yang sangat efisien dalam konsumsi energi. Selain itu, penelitian ini juga membantu memahami cara kerja otak dan mengembangkan pengobatan penyakit neurologis.
Analisis Ahli
Professor Simon Schultz
Organoid saat ini belum memiliki sistem vaskular, sehingga masa hidup dan stabilitasnya terbatas; pengembangan sistem ini sangat penting untuk kemajuan biokomputasi.Dr. Lena Smirnova
Biokomputasi akan menjadi pelengkap silicon AI dan membantu penelitian penyakit otak, sekaligus mengurangi ketergantungan pada penggunaan hewan dalam riset.

