Pangsa Pasar Nvidia di China Anjlok 0 Persen Akibat Larangan AS
Teknologi
Kecerdasan Buatan
20 Okt 2025
58 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Nvidia mengalami penurunan tajam di pasar China akibat larangan ekspor dari AS.
CEO Jensen Huang mengkritik kebijakan yang menyebabkan hilangnya pangsa pasar di China.
Larangan ekspor produk chip AI berdampak signifikan pada pendapatan Nvidia.
Nvidia adalah perusahaan yang membuat chip penting untuk teknologi kecerdasan buatan atau AI. Baru-baru ini, pangsa pasar Nvidia di China turun drastis dari 95 persen menjadi nol persen. Hal ini disebabkan oleh larangan ekspor produk teknologi tinggi yang diberlakukan oleh pemerintah Amerika Serikat.
CEO Nvidia, Jensen Huang, mengatakan bahwa larangan ini membuat Nvidia kehilangan pasar terbesar mereka di China. Penjualan chip khusus yang digunakan untuk pusat data AI seperti A800 dan H800 juga tidak lagi diperbolehkan sejak Oktober 2022. Kebijakan ini sangat mempengaruhi pendapatan Nvidia.
Larangan ekspor tersebut diarahkan untuk membatasi China dalam mengakses teknologi terbaru. Sebagai respons, China mempercepat pengembangan teknologi chip AI dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada produk luar negeri. Hal ini memicu persaingan teknologi yang semakin ketat antara AS dan China.
Meskipun pangsa pasar di China hilang, harga saham Nvidia justru naik tajam karena permintaan chip AI di pasar lain tetap tinggi. Kenaikan harga saham ini membuat CEO Nvidia, Jensen Huang, menjadi salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan lebih dari 159 miliar dolar AS.
Situasi ini menunjukkan dampak besar kebijakan perdagangan teknologi terhadap perusahaan global dan persaingan antar negara. Meski Nvidia kehilangan pasar China, perusahaan dan pemerintah AS berharap kebijakan ini dapat membatasi kemajuan teknologi milik China di bidang AI.
Analisis Ahli
Dr. Henry Chan (Ahli Teknologi Semikonduktor)
Pembatasan ekspor chip oleh AS memang efektif untuk menghambat China sementara waktu, tapi dalam jangka panjang justru mendorong China untuk mandiri dan inovatif secara teknologi.Prof. Linda Zhao (Ekonom Teknologi, Universitas Beijing)
Kebijakan ini memperlihatkan dampak perdagangan teknologi yang sangat kompleks dan berpotensi menimbulkan risiko geopolitik yang serius serta mempengaruhi rantai pasok global.
