Startup Kemasan Ramah Lingkungan Great Wrap Rugi Besar dan Tutup Usaha
Bisnis
Startup dan Kewirausahaan
16 Okt 2025
248 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Kesulitan untuk mempertahankan operasi dalam industri kemasan berkelanjutan.
Pentingnya ketahanan finansial dan kemampuan untuk beradaptasi dengan tren pasar.
Pengalaman Great Wrap menunjukkan bahwa ide yang baik tidak selalu menjamin kesuksesan finansial.
Great Wrap adalah sebuah startup yang didirikan pada tahun 2019 dengan misi menggantikan plastik tradisional dengan pengemasan yang kompos dan ramah lingkungan. Mereka dikenal melalui produk-produk pengemasan seperti cling wrap dan stretch wrap yang bisa terurai secara alami serta dispenser yang dapat dipakai ulang.
Meski mendapat dukungan pemerintah dan investasi privat sebesar sekitar AURp 467.60 miliar ($28 juta) , bisnis ini mengalami kerugian besar selama beberapa tahun. Pendapatan malah menurun sekitar 32% dalam dua tahun terakhir, sementara biaya operasional membengkak hingga lebih dari delapan kali lipat dari pendapatan di tahun 2025.
Permasalahan utama yang membuat perusahaan kesulitan adalah biaya produksi yang tinggi, tekanan harga bahan baku, dan perubahan pasar yang mulai berpindah dari solusi kompos ke kemasan berbahan daur ulang. Hal ini menyebabkan bisnis sulit beroperasi dengan kondisi keuangan yang sehat.
Pada 17 September 2025, Great Wrap resmi masuk ke administrasi sukarela, menghentikan semua aktivitas di pabriknya di Tullamarine, dan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap kelima karyawannya. Utang sekitar AURp 651.30 miliar ($39 juta) membuat perusahaan sulit untuk melanjutkan operasi.
Kasus Great Wrap menjadi pelajaran penting bagi perusahaan lain di industri kemasan berkelanjutan bahwa ide bagus saja tidak cukup, tapi dibutuhkan perencanaan finansial yang matang dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan pasar agar bisnis bisa bertahan dan berkembang.
Analisis Ahli
Dr. Anisa Rahmadani (Pakarti Institute for Sustainable Business)
Kasus Great Wrap adalah contoh klasik dari kesalahan manajemen risiko dan kurangnya diversifikasi produk dalam industri yang sangat kompetitif dan terpengaruh tren lingkungan yang cepat berubah.Prof. Budi Santoso (Universitas Teknik Kimia Indonesia)
Investasi besar tidak selalu menjamin keberhasilan, khususnya jika tidak disertai inovasi teknologi yang efisien dan struktur biaya yang berkelanjutan dalam proses produksi bahan ramah lingkungan.