Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Fenomena Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia dan Cara Mengantisipasinya

Sains
Iklim dan Lingkungan
CNBCIndonesia CNBCIndonesia
14 Okt 2025
63 dibaca
2 menit
Fenomena Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia dan Cara Mengantisipasinya

Rangkuman 15 Detik

Cuaca panas ekstrem di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor termasuk pergeseran semu Matahari dan minimnya awan.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan dan menghindari aktivitas berat di luar ruangan saat cuaca panas.
Masa pancaroba dapat menyebabkan suhu tinggi dan cuaca yang tidak menentu, yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.
Indonesia sedang mengalami gelombang cuaca panas ekstrem dengan suhu yang sangat tinggi mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius di sejumlah kota besar. Fenomena ini membuat banyak orang merasakan hawa yang sangat panas dan tidak nyaman dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa penyebab utama suhu tinggi ini adalah pergeseran semu Matahari ke selatan Indonesia yang meningkatkan intensitas sinar matahari di wilayah bagian selatan. Selain itu, kurangnya tutupan awan membuat sinar matahari langsung menyentuh permukaan bumi tanpa penghalang. Selain faktor tersebut, masa pancaroba yaitu masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan juga berkontribusi terhadap kenaikan suhu. Masa ini biasanya ditandai dengan cuaca yang tidak menentu dan suhu udara yang lebih tinggi dari biasanya. Wilayah yang paling terdampak oleh cuaca panas ini antara lain DKI Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, Semarang, Grobogan, Sragen, Bali, dan Nusa Tenggara. BMKG memprediksi cuaca ini akan mulai mereda pada akhir Oktober hingga awal November 2025 karena mulai banyak tutupan awan dan datangnya musim hujan. Sebagai langkah pencegahan, BMKG mengimbau masyarakat agar menghindari paparan langsung sinar matahari pada pukul 10.00 hingga 16.00 WIB, menggunakan pelindung seperti topi atau payung, memakai sunscreen, dan memperbanyak minum air putih demi mencegah dehidrasi. Anak-anak dan lansia sangat dianjurkan untuk mengurangi aktivitas fisik berat pada siang hari.

Analisis Ahli

Guswanto
Masa pancaroba menyebabkan suhu udara tinggi dan cuaca tidak menentu, sehingga perlu antisipasi dari masyarakat untuk menjaga kesehatan terutama bagi kelompok rentan.